Matcha Itu Minuman, Bukan Identitas
- 20 Apr 2026 19:59 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak - Belakangan ini, muncul anggapan unik di media sosial: minum matcha dianggap “kurang maskulin”. Minuman berwarna hijau cerah yang identik dengan estetika kafe dan gaya hidup sehat ini sering diasosiasikan dengan perempuan atau tren tertentu.
Tapi, benarkah laki-laki tidak “boleh” minum matcha? Jawabannya sederhana, tentu saja boleh. Bahkan, anggapan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh stereotip daripada fakta.
Pada dasarnya, matcha adalah bubuk teh hijau yang berasal dari daun teh yang ditumbuk halus. Tidak ada kandungan atau sifat dalam matcha yang “memilih” siapa yang boleh meminumnya. Ia bukan simbol gender, melainkan sekadar minuman, seperti kopi, teh hitam, atau jus.
Namun, di era media sosial, sesuatu yang sederhana bisa berubah menjadi simbol gaya hidup. Matcha sering dikaitkan dengan estetika tertentu: minimalis, sehat, dan “soft”. Dari sinilah muncul persepsi bahwa matcha lebih “cocok” untuk perempuan.
Anggapan bahwa laki-laki harus minum kopi hitam pahit agar terlihat maskulin adalah contoh stereotip lama yang masih terbawa hingga sekarang. Seolah-olah pilihan minuman bisa menentukan tingkat “kejantanan” seseorang.
Padahal, maskulinitas bukan diukur dari apa yang diminum, tetapi dari bagaimana seseorang bersikap, berpikir, dan memperlakukan orang lain. Memilih matcha tidak membuat seseorang menjadi kurang “laki-laki”, sama seperti memilih kopi tidak membuat seseorang otomatis lebih “keren”.
Tidak bisa dipungkiri, tren di media sosial sering membentuk cara pandang kita. Hal-hal kecil seperti pilihan minuman bisa dipolitisasi menjadi identitas tertentu. Padahal, ini hanyalah konstruksi sosial yang bisa berubah sewaktu-waktu. Hari ini matcha dianggap “feminin”, besok bisa saja jadi simbol gaya hidup produktif atau bahkan maskulin. Tren datang dan pergi, tapi kebebasan memilih tetap penting.
Masalahnya bukan pada matcha, melainkan pada cara kita memberi label. Ketika sesuatu yang netral diberi makna berlebihan, kita tanpa sadar membatasi diri sendiri. Pada akhirnya, pilihan minuman adalah soal selera, bukan soal gender. Mau kopi, teh, atau matcha, semuanya sah. Karena yang penting bukan apa yang ada di dalam gelas, tapi bagaimana kita melihat diri kita sendiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....