Resmi dilindungi Negara, Nasi Jaha Masuk Daftar Kekayaan Intelektual Komunal

  • 23 Mar 2026 16:57 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak – Nasi Jaha kuliner tradisional khas Indonesia Timur yang sarat nilai budaya dan kebersamaan, kini resmi menjadi Kekayaan Intelektual (KI) Komunal. Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum ddan HAM menetapkan hal ini sebagai upaya perlindungan hukum terhadap warisan kuliner tradisional.

1. Bahan dasar nasi jaha

Melansir dari situs resmimalut.kemenkum.go.id, nasi jaha terbuat dari bahan dasar beras ketan, beras putih, jahe, santan, daun jeruk, pandan, dan serai. Bahan dasar tersebut diisi ke dalam batang bambu berlapis daun pisang muda, kemudian dibakar.

Proses pembakaran ini memberikan aroma khas yang menggoda. Menjadikan nasi jaha memiliki cita rasa yang unik dan sulit ditiru hidangan lain. Nasi Jaha menjadi menu sehari-hari dan sering disajikan pada acara tradisional di Ternate dan daerah lain di Maluku Utara.

2. Tujuan perlindungan

Penetapan nasi jaha sebagai Kekayaan Intelektual Komunal tidak lepas dari upaya untuk menjaga dan melindungi kekayaan budaya daerah. Perlindungan ini juga bertujuan untuk mencegah klaim sepihak terhadap warisan kuliner Indonesia.

Hal tersebut juga ditegaskan pihak Kementerian Hukum mengenai pentingnya peran berbagai pihak dalam menjaga keberlangsungan Kekayaan Intelektual Komunal.

“Potensi tersebut patut dilindungi melalui pencatatan pada Kementerian Hukum melalui DJKI. Peran pemerintah daerah dan masyarakat sangat penting untuk mendukung pelindungan Kekayaan Intelektual, agar tidak diklaim daerah lain,” ujar Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Maluku Utara, Budi Argap Situngkir, dalam keterangannya di situs resmi Kantor Wilayah Kemenkum RI Provinsi Maluku Utara.

3. Bagian dari tradisi dan identitas budaya

Nasi jaha bukan sekadar makanan, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi dan identitas budaya masyarakat Bolaang Mongondow, Minahasa, dan etnis-etnis lain di Sulawesi Utara.

Proses pembuatannya yang menggunakan bahan sederhana memerlukan ketelatenan. Tidak hanya membutuhkan waktu, tetapi juga kerja sama, sehingga mencerminkan nilai gotong royong dalam kehidupan masyarakat.

Nasi jaha kerap menjadi hidangan wajib dalam berbagai acara adat seperti pernikahan, syukuran, hingga perayaan keagamaan. Kehadirannya melambangkan penghormatan kepada tamu, sekaligus ungkapan rasa syukur atas kebersamaan dan rezeki yang diterima.

Selain itu, nasi jaha juga sering menjadi sebagai oleh-oleh khas dari Sulawesi Utara. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya keterkaitan makanan ini dengan identitas daerah. Meski terlihat sederhana, nasi jaha memiliki filosofi mendalam tentang harmoni antara manusia, alam, dan tradisi yang terus dijaga hingga kini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....