HandPhone Ketinggalan Bikin Panik? Bisa Jadi Kamu Mengalami Nomophobia
- 29 Sep 2026 11:58 WIB
- Biak
RRI.CO.ID,Biak – Di era digital, ponsel sudah menjadi bagian dari hampir setiap aktivitas sehari-hari, mulai dari berkomunikasi, bekerja, belajar, hingga mencari hiburan. Tak sedikit orang yang merasa tidak nyaman ketika ponsel tertinggal atau baterainya hampir habis. Kondisi inilah yang sering dikaitkan dengan istilah nomophobia, singkatan dari no mobile phone phobia, yang menggambarkan rasa takut atau cemas ketika seseorang tidak dapat menggunakan atau mengakses ponselnya.
Kebiasaan terus memeriksa notifikasi, membawa ponsel ke mana pun, hingga merasa gelisah saat tidak bisa terhubung dengan dunia digital menjadi fenomena yang semakin sering dibicarakan. Meski istilah nomophobia populer di media dan percakapan sehari-hari, penting untuk membedakannya dari diagnosis gangguan mental resmi. Lantas, mengapa seseorang bisa merasa begitu sulit berjauhan dari ponselnya?
Mengutip sukamuda.co.id, Nomophobia, kependekan dari No Mobile Phone Phobia, merupakan istilah yang digunakan untuk mendefinisikan ketakutan berlebih ketika seseorang kehilangan akses terhadap ponselnya. Ketika seseorang mengalami nomophobia ia akan terus khawatir setiap kali tidak bisa menggunakan atau mengecek ponselnya. Kekhawatiran itulah yang dapat membuat orang yang memiliki phobia ini merasa stress, cemas, panik, dan bahkan mengalami gejala fisik seperti sesak nafas dan jantung berdebar. Meski belum diakui sebagai gangguan mental resmi, para asli menilai kondisi ini tetap perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kesehatan psikologis seseorang.
Penyebab dan Tanda-tanda Nomophobia
Salah satu penyebab utama nomophobia adalah karena ketergantungan seseorang terhadap ponsel dalam kehidupan sehari-hari. Di era digital, ponsel bukan hanya digunakan untuk komunikasi, tetapi juga untuk mencari informasi, belajar, bekerja, hingga mengakses media sosial. Selain itu, rasa takut tertinggal informasi atau Fear of Missing Out (FOMO) juga kerap dikaitkan dengan munculnya kondisi seperti ini.
Sejumlah tanda yang umum terlihat ketika seseorang memiliki nomophobia antara lain: terus memeriksa ponsel meski tidak ada notifikasi, merasa gelisah saat baterai hampir habis, panik ketika ponsel tidak ditemukan, sulit fokus tanpa ponsel di dekatnya, serta selalu membawa ponsel ke manapun pergi.
Dampak pada Kesehatan dan Sosial
Ketergantungan terhadap ponsel tidak hanya berdampak pada kondisi mental, tetapi juga fisik dan sosial. Seseorang yang mengalami nomophobia bisa merasa stress, cemas, sulit berkonsentrasi, hingga mengalami gangguan tidur akibat penggunaan ponsel yang berlebihan. Dalam beberapa kasus, gejala fisik seperti jantung berdebar, berkeringat, gemetar, sensasi ingin pingsan, dan sesak napas juga dapat muncul ketika seseorang tidak bisa mengakses ponselnya. Selain itu, penggunaan ponsel secara berlebihan juga dapat mengurangi kualitas interaksi sosial secara langsung. Tidak sedikit orang yang justru lebih sibuk menatap layar handphone dibanding berbicara dengan orang di sekitarnya.
Cara Mengatasi Nomophobia
Nomophobia yang baru muncul dan segera disadari biasanya lebih mudah ditangani sendiri. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan secara mandiri untuk mengatasinya, antara lain:
Matikan ponsel pada malam hari, setidaknya satu jam sebelum tidur, supaya tidur jadi lebih nyenyak.
Sediakan waktu khusus untuk melakukan hobi seperti menggambar, menjahit, atau membaca.
Coba tinggalkan ponsel di rumah untuk sementara waktu, misalnya saat berbelanja atau berjalan-jalan di sekitar rumah.
Perbanyak interaksi langsung dengan keluarga, teman, atau rekan kerja.
Sering memakai ponsel atau sesekali cemas terhadap keberadaannya belum tentu berarti kamu mengalami nomophobia. Kondisi ini masih tergolong wajar jika ponsel hanya digunakan sesekali untuk keperluan penting. Namun, jika gejala nomophobia sudah berlangsung selama enam bulan atau lebih, apalagi sampai menyita banyak waktu dan mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya segera berkonsultasi dengan psikolog agar dapat penanganan yang tepat, termasuk melalui psikoterapi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....