Benarkah Sering Marah Bisa Menyebabkan Hipertensi? Ini Faktanya
- 25 Agt 2026 19:33 WIB
- Biak
RRI.CO.ID,Biak - Mudah tersulut emosi dan sering marah-marah kerap dikaitkan dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Saat seseorang marah, tubuh memang mengalami respons sementara yang dapat membuat denyut jantung dan tekanan darah meningkat. Namun, apakah kebiasaan sering marah benar-benar bisa menyebabkan hipertensi dalam jangka panjang? Simak penjelasan medis untuk mengetahui fakta di balik hubungan antara emosi dan tekanan darah.
Amarah memang bisa menaikkan tekanan darah untuk sementara. Jika terjadi berulang kali dan disertai faktor risiko lain, kondisi tersebut mungkin ikut membebani sistem kardiovaskular. Yuk, simak pembahasannya lebih lanjut di bawah ini seperti dikutip dari Idntimes.
1. Tekanan darah memang bisa naik saat kamu marah
Saat marah, tubuh mengaktifkan sistem saraf simpatik atau respons “lawan atau lari”. Hormon stres dilepaskan, jantung berdetak lebih cepat, dan pembuluh darah menyempit. Perubahan ini membuat tekanan darah naik agar tubuh siap menghadapi situasi yang dianggap mengancam.
Pada sebagian besar orang, kenaikan tersebut sementara. Setelah emosi mereda dan respons stres berhenti, tekanan darah biasanya kembali ke kondisi awal. Karena itu, hasil pengukuran yang tinggi tepat setelah bertengkar, frustrasi jalanan macet, atau menerima kabar buruk belum tentu menandakan hipertensi menetap.
Sebuah penelitian eksperimental tahun 2024 memberikan gambaran tentang efek marah terhadap pembuluh darah. Sebanyak 280 orang dewasa sehat diminta mengingat pengalaman yang membuat mereka marah selama 8 menit. Dibandingkan dengan kelompok netral, kelompok yang dipicu untuk marah mengalami gangguan sementara pada kemampuan pembuluh darah untuk melebar. Efek tersebut masih terlihat hingga sekitar 40 menit setelah tugas selesai.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa saat marah, tubuh juga mengalami perubahan fisiologis. Namun, penelitian tersebut mengukur efek jangka pendek dan tidak membuktikan bahwa satu episode kemarahan langsung menyebabkan hipertensi.
| Baca juga: Fakta dibalik Bahaya Minum Kopi |
2. Apakah orang yang sering marah lebih berisiko mengalami hipertensi?
Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara pola kemarahan dan tekanan darah tinggi, tetapi hasilnya tidak selalu konsisten.
Sebuah penelitian terhadap 537 laki-laki yang awalnya tidak mengalami hipertensi menemukan bahwa pola meluapkan maupun memendam kemarahan berkaitan dengan risiko hipertensi yang lebih tinggi selama 4 tahun pemantauan. Laki-laki dengan skor luapan amarah tertinggi memiliki risiko sekitar dua kali lipat dibanding mereka dengan skor terendah.
Namun, sebuah metaanalisis terhadap 15 penelitian menemukan hubungan yang lebih kecil. Kecenderungan mudah marah hanya memiliki kaitan lemah dengan tekanan darah sistolik dan tidak berkaitan secara konsisten dengan tekanan diastolik. Para peneliti menyimpulkan, kemarahan kemungkinan perannya kecil dalam menentukan tekanan darah.
Jadi, sering marah bukan penyebab tunggal hipertensi. Risiko tekanan darah tinggi juga dipengaruhi usia, faktor genetik, berat badan berlebih, kurang aktivitas fisik, konsumsi garam berlebihan, alkohol, merokok, diabetes, dan penyakit ginjal.
Kemarahan kronis juga dapat berpengaruh secara tidak langsung. Seseorang mungkin merokok lebih banyak, minum alkohol, makan berlebihan, kurang tidur, atau berhenti berolahraga ketika stres terus menumpuk. Kebiasaan-kebiasaan tersebut memiliki pengaruh yang lebih jelas terhadap risiko hipertensi daripada kemarahan itu sendiri.
3. Memendam emosi bukan solusi
| Baca juga: Begadang dan Dampaknya Bagi Tubuh dan Mental |
Mengendalikan amarah bukan berarti harus memendamnya. Marah, apalagi sampai meledak-ledak, memang dapat menaikkan tekanan darah dan detak jantung, tetapi terus memendam emosi tanpa mengelolanya juga belum tentu sehat.
Cara yang lebih aman bisa dengan mengenali emosi, mengambil jeda, lalu menyampaikan masalah setelah tubuh lebih tenang. Ketika kemarahan mulai memuncak, coba menjauh darisituasi yang memicunya untuk sementara, tarik napas dalam secara perlahan, atau tunda percakapan sampai kamu bisa berbicara tanpa berteriak dan menyerang orang lain.
Jika ledakan emosi sering terjadi, mengganggu hubungan, memicu tindakan agresif, atau sulit dikendalikan, bantuan psikolog maupun program manajemen kemarahan dapat dipertimbangkan.
Mengelola emosi dapat menjadi bagian dari perawatan tekanan darah, tetapi tidak menggantikan pengobatan, pola makan rendah garam, aktivitas fisik, tidur cukup, dan perubahan gaya hidup lain yang direkomendasikan dokter.
4. Jangan mengukur tekanan darah saat masih tersulut emosi
Jika baru saja marah, jangan langsung panik melihat hasil pengukuran tensi yang tinggi. Tunggu sampai tubuh lebih tenang, lalu ukur kembali dengan prosedur yang tepat:
Jangan merokok, berolahraga, atau mengonsumsi kafein selama 30 menit sebelumnya.
Kosongkan kandung kemih.
Duduk tenang selama sedikitnya 5 menit.
Gunakan alat tervalidasi dengan ukuran manset yang sesuai.
Letakkan kaki menapak di lantai dan lengan sejajar dengan jantung.
Ambil dua pengukuran dengan jeda sedikitnya satu menit.
Catat hasilnya pada waktu yang relatif sama selama beberapa hari. Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah minimal 140/90 mmHg yang ditemukan saat pengukuran pada dua hari berbeda. Namun, batas diagnosis dan target pengobatan dapat berbeda menurut pedoman serta kondisi kesehatan seseorang.
Segera cari pertolongan medis jika tekanan darah melebihi 180/120 mmHg dan disertai nyeri dada, sesak napas, mati rasa, kelemahan anggota tubuh, perubahan penglihatan, atau kesulitan berbicara. Kondisi tersebut dapat menjadi kegawatdaruratan hipertensi.
Suka marah-marah tidak otomatis menyebabkan hipertensi, tetapi setiap ledakan emosi dapat menaikkan tekanan darah sementara. Jika kamu merasa sering marah, tubuh terus berada dalam keadaan tegang, dan gaya hidup ikut memburuk, risiko hipertensi dapat bertambah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....