Bukan Cuma Hiburan, Musik Bisa Bantu Menjaga Kesehatan Mental

  • 30 Sep 2026 12:34 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Bayangin dunia tanpa musik. Nggak ada lagu yang nemenin perjalanan, nggak ada backsound di film, nggak ada musik yang muncul di FYP TikTok, bahkan nggak ada lagu galau buat nemenin hati yang lagi patah. Rasanya pasti hampa banget, kan? Musik udah jadi bagian penting dari hidup kita sehari-hari. Tapi ternyata, musik bukan cuma sekadar hiburan. Lebih dari itu, musik punya kekuatan luar biasa yang bisa jadi obat buat kesehatan mental kita.

Saat kamu mendengarkan musik, otakmu nggak sekadar menerima suara, tapi juga memprosesnya dalam berbagai bagian. Ada area otak yang bertugas mengenali ritme, ada yang menafsirkan lirik, ada juga yang memicu pelepasan hormon dopamin. Hormon inilah yang bikin kita merasa bahagia setiap kali mendengarkan lagu favorit. Nggak heran kalau musik bisa bikin mood naik drastis. Bahkan, penelitian menunjukkan musik bisa membantu meningkatkan daya ingat, memperbaiki konsentrasi, dan menstabilkan emosi. Itulah kenapa banyak orang belajar sambil mendengarkan instrumental klasik. Bukan cuma soal enak didengar, tapi musik benar-benar bekerja sama dengan otak untuk menciptakan suasana hati yang lebih positif.

Musik sering menjadi teman dalam berbagai suasana. Mulai dari mendengarkan lagu saat perjalanan, bekerja, belajar, berolahraga, hingga ketika sedang ingin menenangkan diri. Di balik aktivitas sederhana tersebut, penelitian menunjukkan bahwa musik juga memiliki hubungan dengan emosi, suasana hati, dan kesehatan mental. American Psychological Association (APA) menyebut musik dapat mengaktifkan berbagai sistem di otak yang berkaitan dengan emosi, ingatan, penghargaan, dan identitas. Musik yang dipilih sendiri juga memiliki keterlibatan kuat dengan sistem penghargaan di otak, yang membantu menjelaskan mengapa lagu tertentu dapat terasa begitu personal.

- Musik Bisa Membantu Mengelola Stres

Ketika sedang stres, sebagian orang memilih mendengarkan lagu favorit untuk membantu mengubah suasana hati. Efek tersebut bukan sekadar perasaan subjektif. Sejumlah penelitian yang dirangkum dalam kajian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa aktivitas berbasis musik dapat memberikan manfaat terhadap stres, kecemasan, dan beberapa aspek kesejahteraan psikologis dalam kondisi tertentu. Levitin menjelaskan bahwa musik dapat memengaruhi perasaan dan bahkan berkaitan dengan respons tubuh seperti perubahan detak jantung. Karena itu, tidak mengherankan jika seseorang merasa lebih tenang setelah mendengarkan lagu yang sesuai dengan suasana hatinya.

- Bukan Berarti Musik Adalah Pengganti Terapi

Meski memiliki manfaat, musik tidak seharusnya dianggap sebagai pengganti pengobatan untuk gangguan mental. Ada perbedaan antara yang dilakukan sebagai intervensi terapeutik. APA menjelaskan bahwa terapi musik merupakan intervensi yang dirancang secara sengaja untuk mencapai tujuan tertentu. Bentuknya tidak selalu sekadar mendengarkan lagu, tetapi dapat mencakup bernyanyi, menulis lagu, improvisasi vokal, hingga membuat musik.

- Lagu Favorit Bisa Jadi Cara Sederhana untuk Relaksasi

Bagi masyarakat umum, manfaat musik tidak harus selalu melalui terapi profesional. Mendengarkan musik favorit secara sadar dapat menjadi salah satu aktivitas untuk bersantai atau mengatur suasana hati. Namun, jenis musik yang memberikan efek nyaman bisa berbeda pada setiap orang. Lagu yang membuat seseorang rileks belum tentu memberikan efek yang sama kepada orang lain. Penelitian yang dirangkum APA juga menunjukkan bahwa musik yang dipilih sendiri memiliki kaitan kuat dengan sistem penghargaan dan identitas seseorang. Dengan kata lain, pengalaman seseorang terhadap musik sangat personal. Karena itu, tidak ada satu genre yang secara universal dapat disebut sebagai “musik terbaik” untuk kesehatan mental. Lagu yang tenang mungkin membantu seseorang bersantai, sementara orang lain justru merasa lebih baik setelah mendengarkan musik dengan tempo cepat.

- Musik dan Kesehatan Mental: Pelengkap, Bukan Pengganti

WHO mencatat bahwa seni, termasuk musik, memiliki potensi dalam mendukung kesehatan dan kesejahteraan. Dalam salah satu program WHO/Europe untuk ibu dengan depresi pascapersalinan, sesi bernyanyi digunakan sebagai bagian dari lingkungan yang mendukung pemulihan, hubungan sosial, dan kesejahteraan. Namun, ketika seseorang mengalami gejala kesehatan mental yang menetap atau mengganggu aktivitas sehari-hari, musik sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya cara untuk mengatasinya. WHO menegaskan bahwa gangguan kecemasan, misalnya, memiliki berbagai pilihan terapi yang efektif dan orang yang mengalami gejala perlu mendapatkan bantuan yang sesuai. jadi, musik memang bukan “obat” dalam arti pengganti terapi atau pengobatan medis. Namun, musik dapat menjadi teman untuk mengelola suasana hati, relaksasi, dan kesejahteraan, serta dalam kondisi tertentu menjadi bagian dari terapi musik yang dilakukan secara profesional. Pada akhirnya, tidak ada salahnya menyediakan waktu untuk memasang headphone, memilih lagu favorit, dan menikmati beberapa menit tanpa gangguan. Sesederhana itu, musik bisa menjadi salah satu cara untuk memberi ruang bagi diri sendiri.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....