Tren Underconsumption Core Ramai di Media Sosial, Ini Cara Menerapkannya

  • 30 Sep 2026 16:22 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Media sosial selama ini identik dengan tren belanja, haul, koleksi barang, hingga rekomendasi produk terbaru. Namun, muncul tren yang justru mengajak pengguna melakukan hal sebaliknya membeli lebih sedikit, memanfaatkan barang yang sudah dimiliki, dan tidak mudah tergoda oleh tren konsumsi.

Fenomena tersebut dikenal sebagai underconsumption core. Tren ini banyak muncul di TikTok dan platform media sosial lainnya melalui konten yang memperlihatkan barang-barang yang digunakan dalam jangka panjang, pakaian yang dipakai berulang kali, produk kecantikan yang dihabiskan sampai tuntas, hingga barang bekas yang diperbaiki atau digunakan kembali.

Di Indonesia, tren serupa juga mendapat perhatian. dilansir The Jakarta Post bahwa konten underconsumption core telah menyebar di Indonesia, dengan sejumlah kreator menunjukkan cara menggunakan kembali barang yang sudah dimiliki daripada terus membeli produk baru.

- Apa Itu Underconsumption Core?

Secara sederhana, underconsumption core mengajak seseorang untuk lebih sadar terhadap kebiasaan belanjanya. Alih-alih membeli karena sedang tren atau karena melihat produk yang digunakan influencer, seseorang mempertimbangkan apakah barang tersebut memang dibutuhkan. Ia menjelaskan bahwa konsep tersebut berfokus pada membeli lebih sedikit, menggunakan kembali barang, dan mengurangi limbah melalui keputusan konsumsi yang lebih sadar. Pernyataan tersebut dikutip The Jakarta Post dalam pemberitaan mengenai tren underconsumption di Indonesia.

- Cara Menerapkannya dalam Kehidupan Sehari-hari

Menerapkan underconsumption core tidak berarti seseorang harus berhenti membeli barang sama sekali. Konsepnya lebih kepada mengurangi pembelian yang tidak perlu dan memaksimalkan barang yang sudah dimiliki.

Berikut beberapa langkah sederhana yang dapat dicoba:

1. Gunakan barang sampai benar-benar habis

Daripada mengganti produk hanya karena muncul versi baru, coba gunakan produk yang masih berfungsi sampai masa pakainya selesai. Misalnya, menghabiskan produk skincare atau makeup sebelum membeli yang baru.

2. Perbaiki sebelum membeli pengganti

Pakaian yang sobek, tas dengan resleting rusak, atau furnitur yang mulai usang tidak selalu harus langsung dibuang. Memperbaikinya dapat memperpanjang usia barang sekaligus mengurangi limbah. ABC juga menyoroti praktik memperbaiki dan merawat barang sebagai bagian dari gaya hidup konsumsi yang lebih sadar.

3. Terapkan aturan “butuh atau ingin?”

Sebelum checkout, beri waktu untuk mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan. Cara sederhana ini dapat membantu mengurangi pembelian impulsif yang muncul karena melihat konten media sosial.

4. Pilih barang bekas ketika memungkinkan

Pakaian, furnitur, buku, atau barang tertentu tidak selalu harus dibeli dalam kondisi baru. Membeli second-hand dapat menjadi salah satu cara memperpanjang masa pakai sebuah produk.

5. Maksimalkan barang yang sudah ada

Satu pakaian dapat digunakan dengan berbagai kombinasi. Begitu pula wadah bekas yang masih layak dapat dimanfaatkan kembali untuk menyimpan barang lain.

Bukan Sekadar Tren Media Sosial

Popularitas underconsumption core tidak terlepas dari kondisi ekonomi dan meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan. Charles Lindsey, profesor di University at Buffalo, menyebut beberapa faktor yang turut menjelaskan popularitas tren ini, termasuk utang konsumen, inflasi, kondisi ekonomi, serta alasan lingkungan dan finansial.

Di sisi lain, tren ini juga mendapat kritik. Sejumlah pengamat mempertanyakan apakah kebiasaan menggunakan barang sampai habis sebenarnya merupakan tren baru atau justru praktik konsumsi yang selama ini sudah dilakukan banyak orang. ABC mencatat adanya kritik terhadap istilah underconsumption core karena berpotensi membuat pola konsumsi biasa terlihat seperti sebuah estetika baru.

Karena itu, underconsumption core tidak harus dipahami sebagai aturan untuk memiliki barang sesedikit mungkin. Esensinya adalah lebih sadar sebelum membeli, merawat barang yang sudah dimiliki, serta mengurangi pemborosan.

Di tengah derasnya konten belanja di media sosial, memilih untuk tidak selalu mengikuti tren juga dapat menjadi bentuk lain dari gaya hidup. Bukan tentang siapa yang memiliki barang paling sedikit, melainkan bagaimana seseorang membuat keputusan konsumsi yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....