Dari sekolah guru di Miei hingga Persipura, sejarah sepak bola di Papua
- 19 Apr 2025 16:26 WIB
- Biak
KBRN Biak, Sejak jaman penjajahan Belanda di wilayah Papua Barat, sepak bola sudah mulai diperkenalkan. Dimulai dari sekolah guru di Miei pada 1925, tradisi bermain sepak bola meluas, hingga hampir setiap kampung memiliki lapangan sepak bola.
Sejak saat itu, hampir setiap kampung juga memiliki klub sepak bola. Di Kampung Kajoe Pulo, ada PSK, dan di Kampung Yoka, Hollandia (nama Kota Jayapura pada masa penjajahan Belanda) ada klub KSM atau Kami Suku Mebri.Di kutib dari TABLOID JUBI.
Sepak bola adalah permainan yang mewajibkan lawan tanding dan tuan rumah harus bersalaman atau berjabat tangan sebelum dan sesudah pertandingan. Sepak bola mampu meredam konflik antar saudara dan suku,” kenang mendiang guru Th Wospakrik saat membangun kompetisi antar klub di Kota Serui, yang menjadi cikal bakal lahirnya Voetball Bond Seroei.
Guru Th Wospakrik, akhirnya berpindah ke Hollandia pada 1948. Ia menjadi guru di OSIBA, dan ikut bergabung dalam klub Juliana milik OSIBA di Kampung Yoka. Saat memperkuat klub OSIBA maupun klub Hollandia Bond, Wospakrik bermain sebagai bek tengah. Sepupunya, Arnold Mampioper yang juga mantan pelajar di OSIBA, menjadi striker atau ujung tombak.
Rudy Hangua Mebri, tokoh asal Kampung Yoka, menyebutkan kompetisi sepak bola pada masa Nederlands Nieuw Guinea itu berjalan di bawah dua federasi sepak bola. Kedua federasi itu adalah Voetbalbond Hollandia en Omstreken (VHO) dan Voetbal Bond Hollandia (VBH).
VHO yang didirikan pada 1950 awalnya hanya menaungi pemain asal Eropa dan keturunan Indo Eropa. Kompetisi yang dimulai pada 26 Mei 1956 digelar di Lapangan Emereuw, yang pada masa itu disebut lapangan Ratu Juliana (sekarang disebut Lapangan Trikora). Setelah dua tahun kompetisi, para pemain sepak bola Papua mendapat akses masuk ke klub klub di bawah VHO.
Adapun klub-klub yang tergabung dalam divisi satu Liga Hollandia antara lain,
Club Ajapo Sentani,
Klub DVG( Dinest van Gezondzorg atau Dinas Kesehatan Hollandia)
Club MVV/PMS (Missie Voetbal Vereninging/Perhimpunan Kesebelasan Misi Katolik,
Club Hobong Sentani,
Club Pelican dari PMS dan ST Kotaraja (Perhimpunan Sekolah Kristen),
Club Perhubungan Sentani,
Club Latihan Olahraga Nafri (LON),
Club Yobe Sentani,
Club SPS (Serikat Pemuda Supiori) kesebelasan pemuda dari Supiori
Club Juliana, klub dari pelajar OSIBA (Opleiding School voor Inheemse Bestuur Amtenaren atau Sekolah Pamongpraja untuk kaum pribumi), Yoka
Sputinik adalah klub yang terdiri dari pelajar Kweekschool atau Sekolah Guru Atas di Hollandia Binen, sekarang Abepura.
Setiap tahun VHO menyelenggarakan kompetisi bagi klub divisi utama Ere Divisi Hollandia (EDH). Terbentuknya Ere Divisi Hollandia membuat pengurus dan menejemen VHO selalu berkonsultasi dengan Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belanda atau Koninklijke Nederlandse Voetbalbond (KNVB) di Belanda. Kompetisi rutin VHO itu berhasil menyeleksi sejumlah pemain bertalenta, cikal bakal VBH.
Pasca terbentuknya VBH, sejak era 1960-an klub sepak bola di Hollandia ini masuk dalam Liga Pasifik. Saat ini, liga itu tergabung dalam Oceania Football Confederation atau Konfederasi Sepakbola Oceania.
Pada 1960, tim VBH sudah melakukan pertandingan persahabatan dengan klub asal Port Moresby, Papua Nugini. Pertandingan itu berlangsung di Hollandia, menjadi ajang pemanasan menuju Pacific Games 1963 di Suva Fiji. Dalam laga uji coba itu, tim VBH mengalahkan tim Port Moresby skor 6-1. Tim Port Moresby balas mengundang VBH ke Port Moresby, dan VBH kembali memenangi pertandingan itu dengan skor 3-1.
Sejak dulu, kemampuan individu pemain sepak bola Papua telah unggul, sehingga VBH menjalin kerja sama dengan Komisi Teknik dari klub Ajax Amsterdam. Kerja sama menjaring para pemain bola berbakat dari Tanah Papua, yang lantas dikirim ke Belanda.
Mr Abbas, Ketua VBH dan kompetisi Divisi 1 Liga Hollandia waktu itu, menyebut para pemain terbaik seperti Karel Pehelerang, Theo Daat akan dikirim untuk berlatih ke klub Ajax Amsterdam. Sementara Dominggus Waweyai akan dikirim ke PSV Eindhoven.
Sejak Indonesia mengambil alih penguasaan wilayah Barat Barat dari UNTEA pada 1 Mei 1963, kompetisi Liga 1 Hollandia juga terhenti. “Kondisi saat itu sangat lesu, sehingga tak ada lagi kompetisi,” kenang Pdt Mesak Koibur, mantan Ketua Umum Persipura periode 1965.
Perubahan politik di Papua mengubah arah perkembangan sepak bola di Papua. Para pemain sepak bola Papua mulai dikenal di medan sepak bola Indonesia sejak 1963, saat klub asal Papua Barat, Persatuan Sepak Bola Kota Baru (Persikobar) bertanding di Stadion Senayan, Jakarta.
Penggemar sepak bola di Jakarta pun kagum melihat kepiawaian para pemain Papua. Nama-nama besar seperti Chris Wader, Jan Oei, Jahya Ibo, Toni Marisan, Agus Puy, Dominggus Waweyai, Bass Youwe, Max Mebri (kiper),Dominggus Nay, Dolf Hanasbey, dan Gasper Sibi termasuk dalam tim Persikobar yang bertanding di Senayan.
Sejak tampil di Senayan pada 1963, Dominggus Waweyai menambah tajam lini depan tim nasional Indonesia. Dominggus Waweyai juga bermain untuk tim Persija Jakarta. Seorang pesepak bola Papua lainnya, Wim Mariaswasih ikut memperkuat tim Persija Jakarta.
Di bawah binaan pelatih Persija Endang Witarsah, ketajaman Dominggus Waweyai semakin terasah dan terus berkembang. Ia kemudian menjadi tandem Sutjipto Suntoro di timnas Indonesia, dan membawa Gareng menjadi top skor Asia kala itu.
Menurut mendiang Hengky Heipon, kapten Persipura era 1968-1978, kemampuan individu Dominggus Waweyai memang mumpuni, membuatnya mudah melewati tiga sampai empat pemain lawan di jantung pertahanan lawan. Kelincahan Dominggus Waweyai membuat tugas Sucipto Suntoro semakin ringan, tinggal menceploskan bola ke gawang lawan.
Tim nasional Indonesia melakukan pertandingan persahabatan ke Belanda, dan melawan melawan klub raksasa Belanda Feyenord Rotterdam pada 9 Juni 1965. Tim nasional Indonesia kalah telak 1 – 6 dari Feyenord. Kekalahan telak itu disusul kejutan berikutnya, pasca pertandingan persahabatan itu Dominggus Waweyai menghilang.
Kejutan itu membuat Presiden Soekarno turun tangan dengan melayangkan protes terhadap pemerintah Belanda. Sejumlah masyarakat juga berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar Belanda yang ada di Jakarta, namun tidak ditanggapi Kerajaan Belanda. Tim nasional Indonesia akhirnya melanjutkan tur mereka ke Jerman Barat tanpa Dominggus Waweyai.
Tahun 1965 juga mengawali terbentuknya kompetisi lokal yang melahirkan klub Persatuan Sepak Bola Sukarnapura atau Persipura. Menurut Pdt Mesak Koibur, kompetisi antar klub itu penting, agar para pemuda bersemangat kembali untuk bermain sepak bola.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....