Jangan Dianggap Sepele, Ini Dampak Buruk Workaholic bagi Karyawan

  • 31 Jul 2026 06:47 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Bekerja keras sering kali dipandang sebagai kunci kesuksesan. Namun, ketika seseorang bekerja secara berlebihan hingga mengabaikan kesehatan, keluarga, dan kehidupan pribadi, kondisi tersebut dapat mengarah pada perilaku workaholic. Fenomena ini semakin banyak ditemukan di berbagai sektor pekerjaan seiring meningkatnya tuntutan produktivitas dan kemajuan teknologi yang membuat karyawan selalu terhubung dengan pekerjaan.

Pakar kesehatan kerja menjelaskan bahwa workaholic berbeda dengan karyawan yang rajin atau berdedikasi tinggi. Seorang workaholic cenderung merasa bersalah saat tidak bekerja, sulit melepaskan diri dari tugas kantor, dan terus memikirkan pekerjaan bahkan di luar jam kerja. Kebiasaan ini dapat memicu stres berkepanjangan yang berdampak pada kesehatan fisik maupun mental.

Dampak negatif dari perilaku workaholic tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga perusahaan. Karyawan yang bekerja tanpa jeda lebih rentan mengalami kelelahan (burnout), gangguan tidur, penurunan konsentrasi, hingga meningkatnya risiko penyakit seperti tekanan darah tinggi dan gangguan jantung. Dalam jangka panjang, produktivitas justru dapat menurun karena tubuh dan pikiran tidak memiliki waktu yang cukup untuk beristirahat.

Selain itu, hubungan sosial dan kehidupan keluarga juga dapat terganggu. Waktu bersama pasangan, anak, maupun teman menjadi berkurang sehingga memicu konflik dan menurunkan kualitas hidup. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kesejahteraan emosional seseorang.

Di lingkungan kerja, budaya yang mendorong lembur terus-menerus juga dapat berdampak negatif terhadap tim. Karyawan lain mungkin merasa tertekan untuk mengikuti pola kerja yang sama, sehingga menciptakan lingkungan kerja yang kurang sehat dan meningkatkan tingkat pergantian karyawan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, perusahaan dapat menerapkan kebijakan yang mendukung keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance). Langkah yang dapat dilakukan antara lain menetapkan jam kerja yang jelas, membatasi komunikasi pekerjaan di luar jam operasional, memberikan cuti yang cukup, serta menyediakan program kesehatan mental dan konseling bagi karyawan.

Sementara itu, karyawan juga perlu membangun kebiasaan kerja yang lebih sehat. Menentukan batas waktu bekerja, memanfaatkan waktu istirahat, berolahraga secara rutin, tidur yang cukup, dan meluangkan waktu bersama keluarga atau melakukan hobi dapat membantu mengurangi risiko menjadi workaholic. Tidak kalah penting, karyawan perlu belajar mendelegasikan pekerjaan dan berani mengatakan tidak terhadap beban kerja yang berlebihan.

Para ahli menilai bahwa produktivitas tidak hanya diukur dari lamanya waktu bekerja, tetapi juga dari kualitas hasil kerja. Dengan menjaga keseimbangan antara karier, kesehatan, dan kehidupan pribadi, karyawan dapat bekerja secara optimal sekaligus mempertahankan kesejahteraan dalam jangka panjang.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....