Harga Plastik Meroket 100 Persen, UMKM Didorong Kembali ke Kemasan Tradisional
- 23 Apr 2026 19:23 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak : Lonjakan harga plastik yang mencapai 30 hingga 100 persen sepanjang April 2026 membuat pelaku usaha kecil dan menengah di sektor kuliner kian tercekik. Para ekonom menunjuk ketergantungan bahan baku impor sebagai akar masalah, sekaligus mendorong kebangkitan kemasan tradisional sebagai jalan keluar.
Impor Jadi Titik Lemah
Pakar ekonomi dari Universitas Airlangga, Atik Purmiyati, menyebut sekitar 60 persen bahan baku plastik nasional masih bergantung pada pasokan luar negeri. Ketika instabilitas geopolitik global mengguncang rantai distribusi internasional dan mendongkrak harga minyak mentah, imbasnya langsung terasa hingga ke lapak-lapak pedagang kecil di dalam negeri.
Ancaman Lingkungan yang Kian Nyata
Tak hanya soal harga, ketergantungan pada plastik juga menyimpan bom waktu bagi lingkungan. Melansir National Geographic Indonesia, Kamis, 23 April 2026, United Nations Environment Programme (UNEP) mencatat setiap hari limbah plastik setara 2.000 truk sampah berakhir di laut, sungai, dan danau. Setiap tahunnya, 19 hingga 23 juta ton plastik mencemari ekosistem perairan dunia mengancam ketahanan pangan dan mata pencaharian jutaan orang.
Warisan Leluhur yang Terlupakan
Di tengah krisis ini, solusinya justru ada di masa lalu. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendorong pelaku usaha untuk melirik kembali kemasan berbahan alami yang telah digunakan nenek moyang secara turun-temurun.
Beberapa di antaranya adalah besek dari anyaman bambu yang menjaga makanan tetap segar berkat sirkulasi udaranya, bongsang yang lazim dipakai untuk mengemas tahu Sumedang, hingga kendil dari tanah liat yang dipercaya mampu memperkaya cita rasa masakan seperti gudeg.
Selain itu, beragam jenis daun alami juga terbukti efektif sebagai pembungkus makanan. Daun pisang dan daun jati unggul dalam menjaga kehangatan, daun patat dikenal memiliki sifat antibakteri alami, sementara daun talas banyak digunakan masyarakat Sumatera Utara, dan daun simpor menjadi pilihan khas Kepulauan Bangka Belitung.
Gerakan dari Bawah
Perubahan ini pun mulai menggelinding dari tingkat akar rumput. Gerakan From Kresek to Besek menjadi salah satu inisiatif yang mengajak masyarakat meninggalkan kantong plastik sekali pakai dan beralih ke wadah tradisional yang dapat terurai secara alami.
Selain ramah lingkungan, kemasan berbahan organik dinilai mampu memberikan nilai tambah tersendiri aroma dan cita rasa khas yang tidak bisa ditawarkan oleh plastik. Kemenparekraf berharap tren ini dapat menjadi motor penggerak ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal, sekaligus menjaga kelangsungan warisan budaya bangsa di tengah tekanan zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....