BPOM Perkuat Regulasi Precision Medicine untuk Dorong Inovasi Terapi

  • 31 Agt 2026 22:48 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memperkuat regulasi untuk mendukung pengembangan precision medicine dan advanced therapy medicinal products (ATMP) di Indonesia. Langkah tersebut dilakukan seiring perkembangan teknologi kesehatan yang semakin cepat, dengan tetap menempatkan keamanan, efikasi, dan mutu sebagai prinsip utama.

Kepala BPOM RI Taruna Ikrar mengatakan perkembangan teknologi kesehatan membutuhkan regulasi yang mampu mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan. Menurutnya, regulasi yang adaptif diperlukan agar inovasi terapi dapat berkembang tanpa mengurangi perlindungan terhadap masyarakat.

“BPOM secara aktif mendukung inovasi dalam negeri melalui jalur regulasi khusus di setiap tahapan pengembangan produk, yang mengacu pada Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2025 tentang Penilaian Produk Terapi Advanced dan Peraturan BPOM Nomor 24 Tahun 2025 tentang Persetujuan Pengembangan Obat Baru,” ujar Taruna Ikrar dalam Dr. Boenjamin Setiawan Distinguished Lecture Series (DBSDLS) 2026 di Jakarta, Sabtu (29/8).

Taruna mengatakan percepatan regulasi menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem inovasi kesehatan yang mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat. Namun, percepatan tersebut, menurut dia, harus tetap disertai prinsip kehati-hatian dan pengawasan yang kuat.

Ia menegaskan setiap produk terapi yang dikembangkan harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan sebelum dapat memberikan manfaat kepada masyarakat. Karena itu, percepatan inovasi tidak boleh mengurangi standar pengawasan terhadap keamanan dan kualitas produk.

“Dalam mengawal babak baru pengobatan presisi ini, kami mengapresiasi kolaborasi erat bersama Kalbe. BPOM memastikan bahwa percepatan regulasi ini tetap berpijak pada prinsip tanpa kompromi terhadap aspek keamanan, kualitas, dan efikasi demi melindungi kesehatan seluruh masyarakat Indonesia,” tutur Taruna.

DBSDLS 2026 yang digelar PT Kalbe Farma Tbk. pada Sabtu (29/8) di The St. Regis Jakarta tersebut dihadiri lebih dari 200 dokter, peneliti, akademisi, perwakilan pemerintah, dan pemangku kepentingan kesehatan.

Forum itu membahas perkembangan precision medicine, immune cell therapy, dan gene editing. BPOM menilai kolaborasi antara regulator, industri, akademisi, klinisi, dan peneliti diperlukan untuk memperkuat pengembangan terapi generasi baru sekaligus memastikan inovasi kesehatan yang dihasilkan tetap aman, berkualitas, dan efektif.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....