Teknologi IoT & Ergonomi Diperkenalkan untuk Mendukung Keselamatan Nelayan Batam

  • 20 Agt 2026 12:32 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT) dan prinsip ergonomi diperkenalkan kepada masyarakat nelayan di Desa Pasir Panjang, Pulau Batam, melalui Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) tahun 2026. Kegiatan yang mendapat pendanaan BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tersebut dilaksanakan pada 20 dan 28 Juni, 27 Juli, serta 8 Agustus 2026.

Program PKM tersebut mengusung tema “Integrasi Teknologi IoT dan Ergonomi untuk Pemantauan Aktivitas dan Keselamatan Kerja Nelayan Pesisir di Pulau Batam”. Pelaksanaannya melibatkan satu ketua tim dan empat anggota bersama masyarakat sebagai mitra dalam sosialisasi, penerapan, dan evaluasi teknologi.

Ketua tim PKM, Sri Zetli, S.T., M.T., mengatakan program tersebut disusun dengan mempertimbangkan kondisi kerja nelayan yang menghadapi lingkungan kerja dinamis serta berbagai risiko selama beraktivitas di wilayah pesisir.

“Kami ingin teknologi yang dikembangkan tidak berhenti pada aspek teknologi semata. Teknologi tersebut harus benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya dalam mendukung pemantauan aktivitas dan meningkatkan keselamatan nelayan saat bekerja,” ujar Sri Zetli.

Dalam kegiatan tersebut, IoT digunakan sebagai pendekatan untuk mendukung pemantauan aktivitas melalui perangkat yang saling terhubung. Sementara itu, prinsip ergonomi diterapkan dengan mempertimbangkan kondisi fisik, kenyamanan, kemudahan penggunaan, serta kesesuaian perangkat dengan aktivitas nelayan.

Sri menjelaskan, kedua pendekatan tersebut diperlukan agar teknologi yang diterapkan tidak justru menambah beban bagi pengguna. “Aspek ergonomi sangat penting karena teknologi harus menyesuaikan diri dengan manusia, bukan sebaliknya. Perangkat yang digunakan nelayan harus mudah dioperasikan, tidak mengganggu aktivitas kerja, dan tetap dapat digunakan dalam kondisi lingkungan kerja yang dinamis,” katanya.

Selain pengenalan teknologi, kegiatan juga diisi dengan sosialisasi dan diskusi bersama masyarakat. Nelayan diberikan kesempatan menyampaikan pengalaman dan kondisi yang dihadapi selama bekerja, sehingga kebutuhan pengguna dapat menjadi pertimbangan dalam penerapan teknologi.

Anggota tim PKM, Erlin Elisa, S.Kom., M.Kom., mengatakan pengenalan teknologi dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat pemahaman masyarakat. “Kami berusaha merancang pendekatan yang sederhana dan mudah dipahami oleh masyarakat. Tujuannya bukan membuat teknologi yang rumit, tetapi menghadirkan teknologi yang benar-benar memiliki fungsi dan manfaat bagi aktivitas nelayan sehari-hari,” jelasnya.

Tim Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) dan Nelayan mengabadikan momen bersama. (Foto: Tim PKM)

Sementara itu, aspek ergonomi menjadi perhatian karena pekerjaan nelayan memiliki tuntutan fisik dan kondisi lingkungan yang berbeda dengan pekerjaan di daratan. Penyesuaian antara manusia, peralatan, dan lingkungan kerja menjadi bagian dari pembahasan dalam kegiatan tersebut.

Anggota tim lainnya, Pastima Simanjuntak, S.Kom., M.Si., mengatakan penerapan ergonomi diperlukan untuk melihat interaksi antara nelayan dengan perangkat yang digunakan. “Kami melihat keselamatan kerja tidak hanya berkaitan dengan perangkat atau teknologi, tetapi juga dengan bagaimana manusia berinteraksi dengan perangkat tersebut. Karena itu, faktor kenyamanan, kemudahan penggunaan, posisi perangkat, dan kondisi aktivitas nelayan menjadi bagian yang kami perhatikan,” ungkapnya.

Menurut Pastima, pemahaman mengenai keselamatan juga dapat dimulai dari penggunaan peralatan yang sesuai dengan kondisi tubuh dan aktivitas kerja. Hal tersebut menjadi bagian dari edukasi yang diberikan kepada masyarakat selama kegiatan berlangsung.

Pastima Simanjuntak, S.Kom., M.Si. memberikan materi kepada nelayan. (Foto: Tim PKM)

Program PKM tersebut menempatkan masyarakat sebagai mitra dalam proses pelaksanaan. Masukan dari masyarakat digunakan untuk melihat kesesuaian teknologi dengan kondisi kerja nelayan di lapangan, termasuk dalam aspek penggunaan dan kenyamanan perangkat.

Pengembangan teknologi dalam program tersebut masih dapat dilanjutkan, antara lain melalui pemantauan aktivitas, sistem peringatan kondisi darurat, pengumpulan data, serta penyesuaian perangkat dengan kebutuhan nelayan. Pengembangan selanjutnya akan bergantung pada hasil penerapan dan kebutuhan masyarakat di lapangan.

Program yang dilaksanakan pada 20 dan 28 Juni, 27 Juli, serta 8 Agustus 2026 ini menjadi bagian dari kegiatan PKM perguruan tinggi kepada masyarakat dengan memanfaatkan pendekatan teknologi dan ergonomi. Penerapannya diarahkan pada persoalan keselamatan kerja yang dihadapi masyarakat nelayan di wilayah pesisir Batam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....