700 Anak Putus Sekolah Kembali Belajar Lewat Pendidikan Jarak Jauh
- 31 Jul 2026 19:03 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Lebih dari 700 anak yang sebelumnya kehilangan akses pendidikan kini bersiap kembali belajar melalui program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) jenjang pendidikan menengah. Program ini menjadi strategi pemerintah untuk menjangkau Anak Tidak Sekolah (ATS) sekaligus memastikan hak pendidikan tetap terpenuhi.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyebut hingga Juli 2026 telah mengidentifikasi lebih dari 1.000 calon peserta PJJ. Setelah melalui proses verifikasi, sekitar 700 anak dinyatakan memenuhi kriteria sebagai ATS dan siap mengikuti pembelajaran.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, mengatakan PJJ merupakan bentuk kehadiran negara untuk menjangkau anak-anak yang selama ini berada di luar sistem pendidikan.
“PJJ adalah bentuk jawaban dari doa dan harapan, PJJ adalah jembatan meraih cita-cita. PJJ ini adalah bentuk negara menjemput bola, tidak hanya sekadar hadir tapi negara menjemput bola,” ujar Fajar dalam kegiatan Coffee Morning bertajuk “Lebih Dekat dengan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Jenjang Pendidikan Menengah” di Jakarta.
Menurut Fajar, penanganan anak tidak sekolah tidak bisa dilakukan hanya oleh pemerintah pusat. Dibutuhkan kolaborasi dengan pemerintah daerah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan agar anak-anak yang tertinggal pendidikan dapat kembali belajar.
“Ujung dari proses ini adalah kita ingin membangun suatu ekosistem pembelajaran yang inklusif dan adaptif sehingga no child left behind,” katanya.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menjelaskan PJJ dirancang untuk menjawab berbagai hambatan yang membuat anak tidak dapat mengikuti pendidikan reguler.
Mulai dari kendala geografis, kondisi keluarga, hingga persoalan pribadi yang menyebabkan anak harus berhenti sekolah.
“PJJ ini kami upayakan untuk menjangkau lebih luas lagi sehingga anak-anak yang selama ini belum mendapatkan layanan pendidikan bisa kembali belajar. Sekolah yang menjadi induk merupakan sekolah dengan akreditasi A,” ujar Tatang.
Untuk menjaga kualitas pembelajaran, Kemendikdasmen menggandeng Universitas Terbuka dan SEAMEO SEAMOLEC dalam pengembangan pembelajaran serta sistem penjaminan mutu. Proses belajar dilakukan melalui kombinasi pembelajaran sinkron, asinkron, serta penggunaan modul digital dan cetak.
Salah satu peserta PJJ, Bagas William, menjadi contoh bagaimana program ini membuka kembali kesempatan pendidikan bagi anak yang sempat terhenti.
Bagas berhenti sekolah selama dua tahun setelah mengalami kecelakaan dan menjalani masa pemulihan. Kondisi tersebut membuatnya tidak dapat mengikuti pembelajaran reguler.
“Saya mengikuti PJJ karena untuk mendapatkan pendidikan dan mencapai cita-cita menjadi wirausaha dengan berjualan online,” ujar Bagas.
Bagi ibunya, Aas, hadirnya program tersebut menjadi harapan baru agar anaknya dapat kembali melanjutkan pendidikan.
“Selama dua tahun itu anak saya tidak sekolah karena fokus untuk penyembuhan dan pemulihan. Saya berpikir bagaimana anak saya melanjutkan sekolahnya. Saya senang sekali ada PJJ ini untuk membantu anak saya bisa tetap melanjutkan pendidikan,” kata Aas.
Kemendikdasmen memastikan program PJJ akan terus diperluas dengan tetap menjaga kualitas layanan pendidikan. Pemerintah menargetkan sistem ini menjadi bagian dari upaya membangun pendidikan yang lebih inklusif dan menjangkau seluruh anak Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....