Kelaparan, Kerusuhan, dan Migrasi: Dampak Global "Tahun Tanpa Musim Panas"

  • 30 Jun 2026 21:11 WIB
  •  Batam

Bagian 2

RRI.CO.ID, Batam - Penurunan suhu global setelah letusan Gunung Tambora pada 1815 tidak hanya mengubah cuaca. Di berbagai belahan dunia, perubahan iklim mendadak itu berkembang menjadi krisis kemanusiaan yang memicu gagal panen, kelaparan, wabah penyakit, hingga perpindahan penduduk dalam skala besar.

Di Eropa, benua yang saat itu masih berusaha bangkit dari dampak Perang Napoleon, musim panas 1816 justru diwarnai hujan deras, udara dingin, dan embun beku yang menghancurkan lahan pertanian. Gandum, kentang, oat, dan berbagai tanaman pangan gagal dipanen di banyak wilayah.

Kondisi itu menyebabkan harga pangan melonjak tajam. Di Inggris, Irlandia, Prancis, hingga sejumlah wilayah berbahasa Jerman, masyarakat mulai mengantre di pasar dan toko roti untuk mendapatkan bahan makanan yang semakin langka.

Ketika penyebab bencana tersebut belum diketahui, kemarahan warga berubah menjadi kerusuhan. Demonstrasi dan penjarahan pasar gandum maupun toko roti terjadi di berbagai kota Eropa sepanjang 1816 hingga 1817. Sejarawan menyebut gelombang kerusuhan itu sebagai salah satu yang paling hebat sejak Revolusi Prancis.

Kelaparan kemudian memperburuk penyebaran penyakit. Antara 1816 hingga 1819, epidemi tifus melanda sejumlah negara, termasuk Irlandia, Italia, Swiss, dan Skotlandia. Lebih dari 65.000 orang dilaporkan meninggal akibat wabah tersebut.

Meski sebagian wilayah Eropa Timur dan Rusia mengalami panen yang relatif lebih baik, kawasan Eropa Barat menjadi pusat krisis pangan terbesar abad itu. Kaisar Rusia bahkan dapat mengirimkan bantuan gandum ke negara-negara lain yang mengalami kekurangan bahan makanan.

Di seberang Samudra Atlantik, Amerika Utara menghadapi cuaca yang sama tidak lazim.

Wilayah timur Amerika Serikat diselimuti kabut kering yang mengurangi cahaya Matahari selama berbulan-bulan. Salju turun pada Juni di sejumlah daerah seperti New York dan Maine, sementara embun beku muncul berulang kali bahkan hingga Agustus.

Di negara bagian seperti Massachusetts, Vermont, New Hampshire, dan New York, sebagian besar tanaman mati sebelum sempat dipanen. Jagung gagal matang, sementara sayuran dan buah-buahan juga mengalami penurunan hasil yang drastis.

Kondisi serupa terjadi di Kanada. Di Québec, persediaan roti dan susu menipis, sementara sebagian warga di Nova Scotia terpaksa merebus tanaman liar sebagai sumber makanan.

Krisis tersebut mendorong ribuan keluarga meninggalkan New England menuju wilayah barat yang dinilai memiliki lahan pertanian lebih subur dan cuaca yang lebih bersahabat. Perpindahan penduduk itu kemudian menjadi salah satu faktor yang mempercepat ekspansi Amerika Serikat ke arah barat.

Dampak perubahan iklim juga dirasakan di Asia.

Di Tiongkok, musim hujan berubah tidak menentu. Lembah Sungai Yangtze dilanda banjir besar, sementara beberapa provinsi justru mengalami salju pada musim panas dan embun beku yang merusak tanaman. Di Provinsi Yunnan, gagal panen memicu bencana kelaparan berskala luas.

India mengalami keterlambatan datangnya angin muson, yang kemudian disusul hujan lebat. Kondisi tersebut memperburuk penyebaran kolera dari kawasan Bengal hingga akhirnya menjalar ke berbagai wilayah Asia dan Eropa.

Sementara itu di Jepang, cuaca dingin memang merusak sebagian tanaman, tetapi negara tersebut berhasil menghindari gagal panen besar sehingga dampaknya terhadap jumlah penduduk relatif terbatas.

Di Amerika Selatan, terutama wilayah timur laut Brasil, situasinya justru berlawanan. Daerah tropis mengalami kekeringan berkepanjangan yang menyebabkan sungai-sungai mengering, ternak mati, dan ribuan penduduk bermigrasi mencari sumber air.

Para sejarawan menyebut rangkaian peristiwa sepanjang 1816 sebagai salah satu krisis ketahanan pangan terakhir berskala global sebelum era modern. Bencana tersebut memperlihatkan bagaimana satu letusan gunung api di Indonesia dapat mengganggu iklim, pertanian, perdagangan, dan kehidupan masyarakat di hampir seluruh dunia, dilansir dari Wikipedia.

(Bersambung ke Bagian 3: Dari Frankenstein hingga Lahirnya Sepeda, Warisan Tak Terduga Letusan Gunung Tambora.)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....