Pemerintah Dorong 100 GW Pembangkit Energi Bersih
- 30 Sep 2026 11:56 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah mendorong percepatan pengembangan energi bersih melalui peningkatan kapasitas pembangkit listrik hingga 100 gigawatt peak (GW) dalam beberapa tahun ke depan. Langkah tersebut dinilai penting untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional sekaligus mempercepat pencapaian target penurunan emisi Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pengembangan pembangkit berbasis energi surya yang dilengkapi sistem penyimpanan baterai dapat membantu menekan emisi dari sektor energi.
“Tentu kalau listrik berbasis pada solar panel dan baterai storage system, tentunya emisinya kan nol. Jadi kita menurunkan target daripada angka emisi mendekati nol di 2060, ini bisa maju 10-15 tahun. Ini yang tentu menjadi PR bagi kita semua,” ujar Airlangga dalam Seminar Nasional Investortrust bertema Green Economy 2045 di Jakarta, Selasa (29/9).
Menurutnya, kebutuhan energi nasional akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan investasi. Kebutuhan listrik diproyeksikan mencapai 700–800 terawatt-jam (TWh) pada 2030.
Karena itu, selain menambah kapasitas pembangkit, pemerintah juga menyiapkan penguatan jaringan transmisi. Pembangunan jaringan transmisi direncanakan mencapai sekitar 47.758 kilometer-sirkuit untuk memastikan pasokan listrik tetap andal sekaligus memberikan fleksibilitas bagi industri dalam memilih sumber energi.
Penguatan sistem kelistrikan juga menjadi bagian penting dari pengembangan industri baru, termasuk ekonomi digital dan pusat data (data center) yang membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar dan berkelanjutan.
Di sisi lain, pemerintah terus memperluas akses listrik melalui program Listrik Desa. Pada 2025, program tersebut telah menyelesaikan elektrifikasi di 1.505 lokasi, sementara pada 2026 ditargetkan menjangkau 4.390 lokasi.
“Kalau ini semua jalan, elektrifikasinya kita mendekati di atas 99 persen dan indeks ketahanan energinya juga meningkat menjadi 7,13. Energi masih penyumbang emisi terbesar, oleh karena itu Bapak Presiden mendorong program 100 gigawatt tersebut,” kata Airlangga.
Percepatan transisi energi tersebut sejalan dengan agenda pembangunan nasional yang menempatkan pengembangan Ekonomi Hijau sebagai salah satu fokus. Pemerintah menilai ketersediaan energi yang andal, terjangkau, dan semakin rendah emisi menjadi prasyarat untuk menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus menarik investasi bernilai tambah tinggi.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada 2027. Untuk mendukung target tersebut, investasi diperkirakan perlu tumbuh sekitar 8–9 persen dengan kebutuhan penanaman modal mencapai Rp2.218–2.258 triliun.
Airlangga menyebut pengembangan energi bersih dan pembangunan ekonomi digital dapat menjadi dua mesin pertumbuhan baru bagi Indonesia.
“Jadi ini twin engine antara green energy dan digital development, dan ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk menjadi tuan rumah energi di negeri sendiri,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....