Wabah Ebola Afrika Tengah Meluas Tembus 500 Kasus
- 08 Jun 2026 08:49 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan wabah Ebola yang melanda kawasan Afrika Tengah terus menunjukkan peningkatan signifikan. Hingga 6 Juni 2026, tercatat sebanyak 471 kasus terkonfirmasi dengan 84 kematian di dua negara terdampak utama, yakni Republik Demokratik Kongo dan Uganda. Lonjakan kasus ini memicu kekhawatiran internasional karena penyebaran virus berlangsung lebih cepat dibandingkan perkiraan awal.
Dalam pembaruan situasi terbaru, WHO mencatat 452 kasus terkonfirmasi beserta 82 kematian di Republik Demokratik Kongo. Sementara itu, Uganda melaporkan 19 kasus dengan dua korban jiwa. Angka tersebut meningkat sekitar 100 kasus dan 20 kematian hanya dalam waktu satu hari, menunjukkan laju penyebaran yang masih sangat tinggi.
Wabah ini pertama kali diumumkan secara resmi pada 15 Mei 2026 di wilayah timur laut Republik Demokratik Kongo. Namun para ahli meyakini virus telah menyebar secara diam-diam selama beberapa waktu sebelum terdeteksi oleh sistem kesehatan setempat. Kondisi tersebut menyebabkan upaya penanganan menghadapi tantangan yang lebih besar karena rantai penularan telah terbentuk di sejumlah komunitas.
WHO telah menetapkan wabah ini sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional. Lembaga tersebut memperingatkan bahwa tanpa intervensi kesehatan masyarakat yang kuat, wabah saat ini berpotensi berkembang menjadi salah satu epidemi Ebola terbesar dalam sejarah. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) bahkan menyebut skenario terburuknya dapat mendekati skala wabah Afrika Barat tahun 2014 yang mengakibatkan lebih dari 28.000 kasus dan 11.000 kematian.
Ebola merupakan penyakit yang menular melalui kontak erat dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi. Selama lima dekade terakhir, penyakit ini telah menyebabkan lebih dari 15.000 kematian di berbagai negara Afrika. Wabah kali ini disebabkan oleh spesies Bundibugyo, salah satu varian Ebola yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun pengobatan yang disetujui secara luas.
Untuk menekan penyebaran virus, WHO bersama Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) meluncurkan rencana tanggap darurat senilai 518 juta dolar Amerika Serikat untuk enam bulan ke depan. Dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat pengawasan kasus, meningkatkan kapasitas laboratorium, memperluas pelacakan kontak, serta memperketat langkah pencegahan dan pengendalian infeksi di wilayah terdampak.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan bahwa wabah bergerak lebih cepat dibandingkan kemampuan respons yang ada saat ini. Ia menyerukan kerja sama internasional untuk menghentikan penyebaran virus di negara-negara terdampak sekaligus memastikan negara tetangga siap mendeteksi dan merespons kasus baru. Menurut WHO, wabah ini dapat dikendalikan, namun membutuhkan tindakan cepat, koordinasi lintas negara, dan dukungan sumber daya yang memadai.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....