WHO Umumkan Pasien Ebola Pertama Sembuh di Kongo
- 29 Mei 2026 22:26 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengumumkan kabar positif dari wabah Ebola yang tengah melanda Republik Demokratik Kongo (DRC). Pada 29 Mei 2026, WHO menyatakan seorang pasien Ebola yang terkonfirmasi berhasil sembuh dan dipulangkan dari pusat perawatan setelah menjalani dua kali tes negatif. Kesembuhan pasien ini menjadi yang pertama tercatat secara resmi sejak wabah Ebola terbaru diumumkan pada 15 Mei lalu.
Pejabat teknis WHO untuk penyakit demam berdarah virus, Anais Legand, mengatakan pasien tersebut keluar dari rumah sakit pada 27 Mei dan kembali ke tengah masyarakat. Meski demikian, WHO meyakini kemungkinan sudah ada pasien lain yang pulih namun belum tercatat secara laboratorium karena keterbatasan kapasitas pengujian di Republik Demokratik Kongo. Hingga kini, WHO mencatat 125 kasus terkonfirmasi dengan lebih dari 900 kasus suspek serta sedikitnya 17 kematian terkonfirmasi akibat Ebola.
Wabah kali ini disebabkan oleh strain Bundibugyo, salah satu jenis Ebola yang belum memiliki vaksin maupun pengobatan khusus. Strain tersebut diketahui memiliki tingkat kematian hingga 50 persen. Namun berdasarkan perkembangan sementara dalam wabah saat ini, tingkat fatalitas tercatat masih berada di bawah 25 persen. WHO menegaskan bahwa akses cepat terhadap layanan kesehatan menjadi faktor penting dalam meningkatkan peluang kesembuhan pasien.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, juga telah tiba di ibu kota Kinshasa untuk membantu penanganan wabah. Ia dijadwalkan bertemu pemerintah Kongo sebelum melanjutkan kunjungan ke Provinsi Ituri, wilayah timur laut yang menjadi pusat penyebaran wabah Ebola ke-17 di negara tersebut. Dalam pesannya kepada masyarakat Kongo, Tedros menegaskan bahwa wabah ini dapat dihentikan dan masyarakat tidak menghadapi krisis tersebut sendirian.
Situasi di lapangan semakin kompleks karena wilayah Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan selama bertahun-tahun dilanda konflik bersenjata. Banyak warga mengungsi ke kamp-kamp darurat dengan kondisi sanitasi buruk dan kepadatan tinggi. Hampir satu juta pengungsi kini berada di Provinsi Ituri. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran besar terhadap penyebaran Ebola yang sangat mudah menular melalui kontak erat dan cairan tubuh.
Sejumlah negara tetangga seperti Uganda dan Rwanda bahkan telah menutup perbatasan mereka dengan Republik Demokratik Kongo guna mencegah penyebaran virus lintas negara. Uganda sendiri melaporkan tujuh kasus terkonfirmasi termasuk satu kematian. Sementara itu, otoritas kesehatan Afrika menyebut jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar karena wabah diduga telah menyebar sebelum terdeteksi secara resmi.
Ebola telah menjadi salah satu penyakit paling mematikan di Afrika selama lebih dari lima dekade dengan total korban meninggal mencapai lebih dari 15 ribu jiwa. Wabah terburuk di Republik Demokratik Kongo pada periode 2018 hingga 2020 menewaskan hampir 2.300 orang. Meski belum tersedia vaksin khusus untuk strain Bundibugyo, Africa CDC optimistis vaksin dapat dikembangkan pada akhir 2026. WHO juga telah merekomendasikan uji klinis vaksin dan pengobatan potensial guna mempercepat penanganan wabah yang kini menjadi perhatian dunia internasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....