Peneliti Singapura Rekayasa Bakteri Usus Lindungi Otak

  • 28 Apr 2026 20:20 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Para ilmuwan dari National University of Singapore berhasil mengembangkan terobosan medis dengan “memprogram” bakteri baik di usus untuk melindungi otak dari racun akibat gagal hati. Inovasi ini membuka peluang baru dalam pengobatan penyakit yang selama ini sulit ditangani secara optimal.

Penelitian yang berlangsung selama delapan tahun ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Cell pada 24 April. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri yang telah direkayasa mampu menurunkan kadar racun, seperti amonia, hingga sepuluh kali lebih rendah—mendekati kondisi normal pada individu sehat.

Dalam kondisi gagal hati, zat berbahaya seperti amonia seharusnya disaring oleh organ tersebut. Namun ketika fungsi hati terganggu, racun ini menumpuk dan dapat mencapai otak, memicu gangguan serius seperti Hepatic Encephalopathy. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan kognitif, kecemasan, penurunan memori, hingga komplikasi berat.

Pendekatan baru ini berbeda dari terapi konvensional yang umumnya menggunakan obat pencahar atau antibiotik. Metode tersebut hanya menekan produksi racun secara terbatas dan berpotensi mengganggu keseimbangan mikrobioma usus. Sebaliknya, teknologi terbaru ini memanfaatkan bakteri hidup yang direkayasa untuk bekerja secara spesifik tanpa merusak ekosistem alami di dalam tubuh.

Para peneliti mengembangkan dua jenis bakteri terapeutik yang saling melengkapi. Jenis pertama berfungsi menyerap kelebihan amonia di usus dan mengubahnya menjadi asam amino yang bermanfaat. Sementara itu, jenis kedua bekerja dengan memecah senyawa yang dapat menghasilkan amonia sebelum zat tersebut terbentuk.

Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa pendekatan ini tidak hanya mengurangi racun, tetapi juga membantu memulihkan keseimbangan metabolisme tubuh serta meningkatkan fungsi otak. Selain itu, ditemukan adanya perbaikan pada sinyal saraf dan penurunan peradangan di otak, yang menunjukkan hubungan kuat antara kesehatan usus dan sistem saraf pusat.

Dari sisi keamanan, bakteri hasil rekayasa ini menunjukkan toleransi yang baik dalam pengujian awal, tanpa tanda-tanda toksisitas sistemik, serta dapat dikeluarkan dari tubuh dalam waktu relatif singkat setelah penggunaan dihentikan.

Ke depan, para peneliti berencana melanjutkan uji jangka panjang serta mengembangkan teknologi ini untuk menangani berbagai penyakit lain yang berkaitan dengan gangguan metabolisme. Jika berhasil diterapkan secara klinis, pendekatan berbasis mikroba ini berpotensi menjadi generasi baru terapi medis yang lebih presisi dan efektif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....