Pola Makan Ramadan Pengaruhi Berat Badan

  • 08 Mar 2026 01:00 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Bulan Ramadan sering dianggap sebagai waktu yang tepat untuk menurunkan berat badan. Dengan durasi puasa lebih dari setengah hari, frekuensi makan yang berkurang, serta hilangnya kebiasaan ngemil di siang hari, banyak orang berharap berat badan ikut turun selama menjalani ibadah puasa.

Pada awal Ramadan, sebagian orang memang merasakan perubahan positif seperti tubuh terasa lebih ringan dan angka timbangan sedikit menurun. Namun, kondisi tersebut tidak selalu bertahan hingga akhir bulan. Memasuki pertengahan Ramadan, sebagian masyarakat justru mengalami berat badan kembali naik bahkan melebihi kondisi sebelumnya.

Perubahan tersebut berkaitan dengan pola makan yang berubah selama Ramadan. Jika pada hari biasa waktu makan tersebar sepanjang hari, saat puasa pola tersebut berubah menjadi dua waktu utama, yakni sahur dan berbuka. Perubahan ini memengaruhi metabolisme tubuh, sistem hormon, serta cara tubuh mengelola energi.

Ketika tubuh tidak menerima asupan makanan selama berjam-jam, cadangan energi mulai digunakan. Kadar gula darah menurun secara bertahap, sementara hormon glukagon membantu memecah lemak sebagai sumber energi. Pada fase ini, sebagian orang memang dapat mengalami penurunan berat badan.

Namun demikian, hasil tersebut sangat bergantung pada keseimbangan energi yang masuk dan keluar. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal The New England Journal of Medicine pada 2019 menyebutkan bahwa pola intermittent fasting dapat membantu menurunkan berat badan, tetapi efeknya sangat dipengaruhi oleh total asupan kalori harian.

Temuan serupa juga dipaparkan dalam penelitian di JAMA Internal Medicine pada 2020 yang menyatakan bahwa pembatasan waktu makan saja tidak selalu menghasilkan penurunan berat badan yang signifikan apabila jumlah kalori yang dikonsumsi tetap tinggi.

Selama Ramadan, tubuh sebenarnya beradaptasi menjadi lebih efisien dalam menggunakan energi. Namun ketika saat berbuka terjadi konsumsi makanan berkalori tinggi dalam jumlah besar, kelebihan energi tersebut akan disimpan oleh tubuh sebagai cadangan lemak.

*Catatan redaksi:

konten ini dimodifikasi oleh AI

Karena itu, para ahli menyarankan masyarakat tetap memperhatikan jumlah dan kualitas makanan saat sahur dan berbuka agar manfaat puasa bagi kesehatan dapat dirasakan secara optimal.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....