GERD Bisa Sembuh dengan Perubahan Gaya Hidup

  • 06 Mar 2026 07:20 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam — Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Konsultan gastroenterologi–hepatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – RSCM, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, menyatakan bahwa penyakit GERD dapat sembuh apabila faktor risikonya dikendalikan dan pengobatan dijalani hingga selesai.

Menurut Ari, terapi GERD tidak hanya berfokus pada menghilangkan gejala dan mencegah komplikasi, tetapi juga harus disertai perubahan gaya hidup. Ia menekankan pentingnya berhenti merokok dan menghindari konsumsi alkohol bagi penderita. Selain itu, berat badan perlu dikontrol dengan menerapkan pola makan rendah lemak.

Ia menjelaskan bahwa perubahan pola hidup sehat seperti menjaga pola makan, rutin berolahraga, menurunkan berat badan agar tidak mengalami obesitas, tidur yang cukup, serta mengelola stres dapat membantu meredakan gejala GERD.

Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, sebagian besar penderita GERD adalah pria berusia di atas 40 tahun yang memiliki kebiasaan merokok dan mengalami obesitas. Namun, saat ini kasus GERD juga mulai banyak ditemukan pada anak-anak.

Kondisi tersebut, kata Ari, berkaitan dengan pola makan yang kurang sehat sejak dini. Konsumsi makanan tinggi keju dan cokelat secara berlebihan, kebiasaan langsung tidur setelah makan, serta kurangnya aktivitas fisik akibat penggunaan gawai dapat memicu munculnya GERD pada anak.

Untuk memastikan adanya GERD, dokter biasanya melakukan pemeriksaan endoskopi guna melihat tingkat keparahan luka pada saluran pencernaan serta mengevaluasi kondisi katup lambung yang berfungsi menahan asam lambung agar tidak naik ke kerongkongan.

Ari menyarankan pemeriksaan tersebut bagi pasien yang sering mengalami nyeri di dada atau ulu hati, sensasi terbakar di dada, serta muntah berulang. Pemeriksaan endoskopi juga penting dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan komplikasi serius seperti kanker akibat luka yang tidak ditangani.

Selain perubahan gaya hidup, pengobatan GERD juga melibatkan konsumsi obat penekan asam lambung yang harus diminum hingga penyakit benar-benar teratasi. Beberapa obat generasi baru dari golongan P-CAB seperti Vonoprazan, Tegoprazan, dan Fexuprazan kini menjadi pilihan terapi karena dinilai lebih efektif, termasuk pada kasus yang berkaitan dengan bakteri Helicobacter pylori.

Ari menambahkan bahwa sekitar 20 persen pasien tidak merespons pengobatan lama, sehingga hadirnya obat generasi baru ini memberi harapan tambahan bagi penderita GERD.

Ia juga menyebut bahwa penerapan puasa intermiten serta menjaga asupan protein dapat membantu mengurangi risiko dan gejala penyakit GERD.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....