Kasus Tuberkulosis Malaysia Meningkat, Warga Diminta Waspada

  • 26 Feb 2026 09:30 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Lonjakan kasus tuberkulosis (TB) kembali menjadi perhatian serius di Malaysia setelah jumlah infeksi menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Penyakit yang kerap dianggap sebagai masalah kesehatan masa lalu ini kini kembali muncul sebagai ancaman kesehatan masyarakat.

Kisah Hisyam Mohamad, seorang petani kelapa sawit berusia 42 tahun dari Pahang, menggambarkan bagaimana TB masih menjadi penyakit berbahaya. Pada 2023, ia awalnya mengabaikan batuk disertai dahak bercampur darah yang dialaminya. Namun kondisinya memburuk dengan cepat hingga berat badannya turun lebih dari 30 kilogram dalam waktu kurang dari sebulan, disertai kelelahan ekstrem dan sesak napas.

Hisyam termasuk dalam 26.781 kasus TB yang tercatat di Malaysia sepanjang 2023, meningkat 5,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ia diketahui memiliki infeksi TB laten atau “sleeping TB”, yaitu kondisi ketika bakteri sudah berada di dalam tubuh tetapi tidak aktif selama bertahun-tahun sebelum akhirnya menyerang saat daya tahan tubuh menurun.

Pada enam minggu pertama 2026 saja, Kementerian Kesehatan Malaysia melaporkan 3.161 kasus TB secara nasional atau naik sekitar 10 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Wilayah Sabah mencatat kasus tertinggi, diikuti Selangor, Sarawak, Johor, serta wilayah federal Kuala Lumpur dan Putrajaya.

Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi paru yang telah menjangkiti manusia selama ribuan tahun. Berbeda dengan COVID-19 yang dapat menular melalui kontak singkat, penyebaran TB biasanya terjadi akibat kontak dekat dalam waktu lama, terutama di ruang tertutup dengan ventilasi buruk.

Pakar kesehatan masyarakat, Dr. Venugopalan K. Balan, menjelaskan bahwa peningkatan kasus banyak dipicu oleh reaktivasi bakteri laten akibat penurunan imunitas, faktor usia, penyakit penyerta, serta dampak infeksi Covid-19 yang dapat meninggalkan kerusakan paru-paru. Meski demikian, ia menegaskan masyarakat tidak perlu panik karena TB bukan wabah cepat seperti pandemi.

Salah satu tantangan terbesar pengendalian TB di Malaysia adalah rendahnya kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan. Terapi TB mengharuskan pasien mengonsumsi kombinasi obat setiap hari selama minimal enam bulan. Penghentian pengobatan di tengah jalan berisiko memunculkan TB resisten obat yang jauh lebih sulit disembuhkan.

Tingkat keberhasilan pengobatan TB di Malaysia saat ini berada di angka 81,5 persen, masih di bawah target 95 persen yang ditetapkan World Health Organization (WHO). Kondisi ini memperpanjang upaya eliminasi TB yang disebut para ahli sebagai proyek kesehatan jangka panjang tanpa solusi instan.

Menjelang bulan Ramadan, otoritas kesehatan juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada karena meningkatnya aktivitas sosial seperti bazar dan acara berbuka puasa bersama berpotensi meningkatkan risiko paparan di ruang padat dan tertutup.

Masyarakat diimbau menerapkan etika batuk dan bersin, memastikan ventilasi ruangan baik, menggunakan masker saat mengalami gejala, serta segera memeriksakan diri jika mengalami batuk lebih dari dua hingga tiga minggu, demam, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, atau kelelahan berkepanjangan.

Para dokter menekankan bahwa TB sepenuhnya dapat disembuhkan apabila terdeteksi sejak dini dan pasien menjalani pengobatan secara disiplin tanpa terputus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....