Singapura Tambah Impor Listrik Surya Malaysia Demi Energi Bersih 2035
- 08 Agt 2026 07:55 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Singapura semakin memperkuat transisi menuju energi bersih dengan memberikan persetujuan bersyarat kepada dua perusahaan untuk mengimpor total 900 megawatt (MW) listrik dari Malaysia. Listrik tersebut akan berasal dari pembangkit tenaga surya yang dipadukan dengan sistem penyimpanan energi baterai di negara bagian Johor. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Singapura untuk mengurangi emisi karbon dan memperkuat ketahanan pasokan energi.
Otoritas Pasar Energi Singapura (Energy Market Authority/EMA) menyatakan bahwa proyek tersebut akan dikembangkan oleh Sembcorp Utilities dengan kapasitas 300 MW dan Southern Solar Alliance, anak perusahaan Ditrolic Energy Holdings dari Malaysia, dengan kapasitas 600 MW. Kedua proyek ditargetkan mulai beroperasi secara komersial sekitar tahun 2029 setelah memenuhi seluruh persyaratan teknis, pendanaan, serta perizinan di kedua negara.
Sebanyak 900 MW listrik yang akan diimpor diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan listrik sekitar satu juta rumah susun empat kamar (HDB) setiap tahunnya. Dengan tambahan proyek ini, jumlah proyek impor listrik yang telah memperoleh persetujuan maupun lisensi di Singapura meningkat menjadi 13 proyek dengan total kapasitas mencapai 9,25 gigawatt (GW). Sumber energi yang diimpor berasal dari tenaga surya, angin, dan tenaga air dari Malaysia, Indonesia, Kamboja, Vietnam, hingga Australia.
Salah satu proyek terbesar akan memanfaatkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya terapung berkapasitas sekitar 2,2 gigawatt-peak (GWp) di Waduk Linggiu, Johor, yang didukung sistem penyimpanan energi baterai hingga 4,3 gigawatt-jam (GWh). Infrastruktur tersebut dirancang untuk memasok kebutuhan energi bersih bagi Malaysia dan Singapura melalui jaringan interkoneksi listrik bawah laut yang telah ada maupun yang akan dikembangkan di masa mendatang.
Singapura menargetkan dapat mengimpor sekitar 6 GW listrik rendah karbon pada tahun 2035 atau sekitar sepertiga dari total kebutuhan listrik nasional. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan yang menyumbang sekitar 40 persen emisi karbon negara tersebut. Diversifikasi sumber energi juga diharapkan meningkatkan ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan pada pembangkit berbahan bakar gas alam.
Kerja sama energi antara Singapura dan Malaysia terus mengalami perkembangan dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, Singapura juga memberikan persetujuan bersyarat untuk impor listrik rendah karbon dari Sarawak serta mendorong studi kelayakan pembangunan interkoneksi listrik kedua antara Semenanjung Malaysia dan Singapura dengan kapasitas hingga 2 GW. Penguatan konektivitas regional ini dinilai penting untuk mendukung perdagangan listrik lintas negara di kawasan Asia Tenggara.
Melalui perluasan impor energi bersih, Singapura tidak hanya mempercepat pencapaian target netral karbon, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai pusat perdagangan energi bersih di kawasan. Kolaborasi lintas negara, investasi pada teknologi energi terbarukan, serta pembangunan jaringan interkoneksi listrik regional diperkirakan akan menjadi pilar utama dalam mendukung ketahanan energi dan pembangunan berkelanjutan di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....