Korea Selatan Keluarkan Peringatan Darurat Gelombang Panas Perdana

  • 13 Jul 2026 07:50 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Korea Selatan untuk pertama kalinya mengeluarkan peringatan darurat gelombang panas pada 12 Juli 2026 melalui sistem peringatan baru yang mulai diberlakukan tahun ini. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk menghentikan seluruh aktivitas di luar ruangan, mencari tempat yang sejuk, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko penyakit akibat suhu ekstrem yang terus meningkat.

Sistem peringatan baru tersebut diterapkan sebagai respons terhadap semakin sering dan intensnya gelombang panas yang melanda Korea Selatan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan ketentuan baru, status darurat akan diberlakukan apabila suhu yang dirasakan mencapai 38 derajat Celsius atau suhu udara aktual menyentuh 39 derajat Celsius dalam satu hari. Langkah ini diharapkan mampu memberikan peringatan lebih dini kepada masyarakat sehingga dampak kesehatan dapat diminimalkan.

Kepala Administrasi Meteorologi Korea (KMA), Lee Mi-seon, menyampaikan bahwa peringatan darurat pertama dikeluarkan untuk dua kota di Provinsi Gyeongsang Utara bagian selatan, yakni Gyeongsan dan Pohang. Menurutnya, suhu di kedua wilayah tersebut telah memenuhi ambang batas darurat selama akhir pekan. Ia menegaskan bahwa status darurat bukan sekadar menandakan cuaca sangat panas, melainkan kondisi yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan serius, bahkan kematian, termasuk bagi orang yang sebelumnya sehat.

Pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar segera menghentikan aktivitas luar ruangan ketika peringatan darurat diberlakukan. Selain itu, warga diminta untuk tidak meninggalkan anak-anak, lansia, maupun hewan peliharaan di dalam kendaraan yang terparkir karena suhu di dalam mobil dapat meningkat dengan sangat cepat dan membahayakan keselamatan.

Data KMA menunjukkan bahwa rata-rata jumlah hari dengan gelombang panas d Korea Selatan meningkat lebih dari dua kali lipat dalam lima tahun terakhir, dari sekitar delapan hari per tahun pada dekade 1970-an menjadi 19 hari. Sementara itu, jumlah malam tropis—yakni ketika suhu minimum malam hari tetap berada di atas 25 derajat Celsius—juga melonjak dari rata-rata empat malam menjadi 14 malam setiap tahun. Kondisi ini menunjukkan dampak perubahan iklim yang semakin nyata terhadap pola cuaca di negara tersebut.

Fenomena suhu ekstrem tidak hanya terjadi di Korea Selatan. Sejumlah negara di Eropa juga mengalami musim panas yang sangat panas sepanjang 2026. Gelombang panas pada Juni lalu memecahkan berbagai rekor suhu, menyebabkan ribuan kematian berlebih di Prancis, memaksa penutupan lebih awal sejumlah destinasi wisata seperti Menara Eiffel, serta membuat penyelenggara Tour de France untuk pertama kalinya dalam sejarah memangkas salah satu etape demi alasan keselamatan.

Para ilmuwan menilai meningkatnya suhu global dipengaruhi oleh kombinasi perubahan iklim, suhu permukaan laut yang terus memanas, serta kembalinya fenomena El Nino pada 2026. Laut yang lebih hangat dapat memperkuat badai tropis dan meningkatkan curah hujan ekstrem di berbagai wilayah. Karena itu, pemerintah di berbagai negara terus memperkuat sistem peringatan dini, meningkatkan kesiapsiagaan layanan kesehatan, dan mengimbau masyarakat untuk lebih waspada menghadapi cuaca ekstrem yang diperkirakan akan semakin sering terjadi pada masa mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....