Ancaman Banjir dan Kekeringan Bayangi Monsun Asia Selatan

  • 11 Jun 2026 15:07 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Musim monsun 2026 di kawasan Asia Selatan diperkirakan membawa tantangan besar bagi jutaan penduduk yang bergantung pada curah hujan tahunan untuk kebutuhan pertanian, air bersih, dan energi. Meskipun prakiraan menunjukkan curah hujan secara keseluruhan berada di bawah normal, para ahli memperingatkan bahwa wilayah tersebut tetap menghadapi risiko serius berupa banjir, tanah longsor, dan kekeringan yang dapat terjadi secara bersamaan akibat pola cuaca yang semakin ekstrem.

Kawasan Pegunungan Hindu Kush-Himalaya yang membentang dari Afghanistan hingga Myanmar menjadi perhatian utama para ilmuwan. Wilayah ini menyimpan cadangan es dan salju terbesar di dunia di luar Kutub Utara dan Antartika, sekaligus menjadi sumber air bagi sedikitnya 10 sistem sungai utama di Asia yang menopang ketahanan pangan, energi, dan pasokan air bagi miliaran penduduk.

Ahli hidrologi dari International Centre for Integrated Mountain Development, Manish Shrestha, menjelaskan bahwa monsun yang lebih kering bukan berarti risiko bencana berkurang. Menurutnya, hujan yang turun dalam waktu singkat namun dengan intensitas sangat tinggi tetap berpotensi memicu banjir bandang dan longsor di berbagai wilayah pegunungan maupun dataran rendah yang padat penduduk.

ICIMOD juga mengingatkan bahwa pola cuaca yang ditandai dengan periode kering berkepanjangan yang kemudian disusul hujan ekstrem dapat memperburuk kondisi lingkungan. Situasi tersebut membuat tanah kehilangan kemampuan menyerap air secara optimal sehingga meningkatkan potensi banjir, erosi, dan kerusakan infrastruktur. Kondisi ini menjadi semakin kompleks akibat perubahan iklim yang terus memengaruhi pola cuaca di kawasan Asia Selatan.

Monsun musim panas yang berlangsung antara Juni hingga September menyumbang sekitar 70 hingga 80 persen total curah hujan tahunan di Asia Selatan. Oleh karena itu, keberhasilan musim hujan sangat menentukan produktivitas sektor pertanian yang menjadi sumber mata pencaharian utama jutaan petani. Gangguan terhadap pola monsun dapat berdampak langsung pada produksi pangan, harga komoditas, hingga stabilitas ekonomi regional.

Pakar perubahan iklim ICIMOD, Sher Muhammad, menyebutkan bahwa berkurangnya tutupan salju di kawasan pegunungan menyebabkan cadangan air musiman menjadi lebih lemah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Suhu yang semakin hangat dan curah hujan yang menurun berpotensi mengurangi pengisian ulang sungai, mata air, dan sumber daya air lainnya yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat di kawasan tersebut.

Para ahli menegaskan bahwa risiko kekeringan dan banjir tidak lagi dapat ditangani secara terpisah. Peningkatan sistem peringatan dini, pemanfaatan prakiraan cuaca jangka pendek, serta kesiapsiagaan masyarakat berbasis lokal menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak bencana. Selain itu, pencairan gletser dan pembangunan yang tidak terkendali di daerah rawan banjir juga menjadi faktor yang dapat memperbesar kerusakan, sehingga diperlukan kebijakan pembangunan yang lebih berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....