Serangan Udara Myanmar Tewaskan Warga Sipil di Rakhine

  • 19 Jun 2026 09:24 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Sedikitnya tujuh warga sipil, termasuk seorang anak berusia lima tahun, dilaporkan tewas akibat serangan udara militer Myanmar di wilayah Kyauktaw, Negara Bagian Rakhine, pada 17 Juni 2026. Informasi tersebut disampaikan oleh saksi mata dan petugas penyelamat setempat yang menyebut serangan terjadi di tengah konflik berkepanjangan yang masih melanda negara Asia Tenggara tersebut.

Menurut laporan dari tim penyelamat, tiga jet tempur militer menjatuhkan sembilan bom di sekitar Kota Kyauktaw pada sore hari waktu setempat. Selain menewaskan tujuh orang, serangan tersebut juga menyebabkan sedikitnya 15 warga lainnya mengalami luka-luka. Hingga kini, pihak militer Myanmar belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden tersebut.

Sehari setelah serangan, sejumlah bangunan di kawasan terdampak terlihat hangus dan masih mengeluarkan asap. Seorang pemilik toko bernama Htay Htay mengaku kehilangan suaminya dalam peristiwa itu. Ia mengatakan baru mengetahui suaminya berada di dalam rumah yang terbakar setelah tim evakuasi menemukan jasad korban di antara puing-puing bangunan.

Konflik di Myanmar terus berlangsung sejak kudeta militer pada tahun 2021 yang menggulingkan pemerintahan sipil pimpinan Aung San Suu Kyi. Kudeta tersebut mengakhiri satu dekade pemerintahan semi-demokratis dan memicu perlawanan bersenjata dari kelompok pro-demokrasi serta organisasi etnis bersenjata di berbagai wilayah negara itu.

Wilayah Rakhine saat ini sebagian besar berada di bawah pengaruh Arakan Army, salah satu kelompok etnis bersenjata terkuat di Myanmar. Pertempuran antara militer dan kelompok tersebut telah menyebabkan ribuan warga mengungsi, sementara akses bantuan kemanusiaan di sejumlah daerah dilaporkan semakin terbatas akibat blokade dan situasi keamanan yang memburuk.

Kelompok hak asasi manusia internasional selama beberapa tahun terakhir berulang kali menuduh militer Myanmar melakukan serangan udara yang menimbulkan korban sipil. Penggunaan pesawat tempur buatan Rusia dan China menjadi salah satu elemen utama operasi militer dalam menghadapi kelompok perlawanan. Namun, organisasi kemanusiaan menilai serangan di kawasan permukiman telah memperparah krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung.

Di tengah situasi tersebut, Presiden Myanmar Min Aung Hlaing sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke China. Dalam pernyataan bersama yang dirilis kedua negara, Beijing menyatakan dukungannya terhadap upaya Myanmar mewujudkan stabilitas nasional dan rekonsiliasi. Meski demikian, komunitas internasional terus menyerukan penghentian kekerasan serta perlindungan yang lebih besar bagi warga sipil yang terdampak konflik di Myanmar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....