Operasi Penyelamatan Dua Pria Hilang di Gua Laos Resmi Dihentikan
- 08 Jun 2026 04:43 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Upaya pencarian terhadap dua warga yang masih terjebak di dalam gua tergenang air di Laos resmi dihentikan pada Sabtu, 6 Juni 2026. Setelah berlangsung lebih dari dua minggu, tim penyelamat menilai kondisi lokasi yang semakin berbahaya membuat operasi tidak lagi memungkinkan untuk dilanjutkan.
Dilansir dari AFP, insiden tersebut bermula pada 20 Mei lalu ketika tujuh warga desa terperangkap di sebuah gua di Provinsi Xaysomboun, Laos bagian tengah. Saat itu mereka sedang mencari kelelawar untuk kebutuhan konsumsi sekaligus menelusuri kawasan bekas tambang emas. Hujan deras yang memicu banjir mendadak membuat jalur keluar tertutup dan mereka tidak dapat menyelamatkan diri.
Tim gabungan dari Laos dan sejumlah negara kemudian diterjunkan untuk melakukan pencarian. Hasilnya, lima orang berhasil ditemukan dalam keadaan hidup. Seorang korban dievakuasi oleh penyelam pada 29 Mei, sementara empat lainnya berhasil keluar sehari kemudian setelah tim berhasil menurunkan debit air di dalam gua.
Meski demikian, dua korban lainnya tak kunjung ditemukan. Berbagai metode pencarian telah dilakukan, namun kondisi medan yang terus memburuk membuat peluang penyelamatan semakin menipis.
Penyelam gua asal Malaysia, Lee Kian Lie, yang ikut terlibat dalam operasi sejak akhir Mei, menyebut misi penyelamatan tersebut pada akhirnya harus dihentikan karena tingkat risiko yang sudah terlalu tinggi.
"Kami sudah sangat dekat. Air di dalam gua sebenarnya sudah cukup terkendali, tetapi pintu masuk gua mulai tidak stabil," ujarnya.
"Melanjutkan operasi ini sangat berisiko. Kami akan terus mengendalikan air dengan cara memompa dan menggali di titik-titik yang memungkinkan agar aliran air keluar lebih cepat. Mungkin saja keajaiban terjadi."
"Semua orang sudah berusaha. Kami sudah berusaha. Saya turut berduka untuk keluarga mereka."
Lee mengungkapkan bahwa operasi tersebut menjadi salah satu misi penyelamatan paling berbahaya yang pernah dihadapinya. Selain ancaman banjir, tim juga harus bekerja di area dengan struktur gua yang rapuh, ruang yang sangat sempit, serta kualitas udara yang tidak ideal.
Di sisi lain, koordinator tim penyelamat asal Thailand, Kengkad Bongkawong, menegaskan bahwa tidak ada lagi personel yang diperbolehkan memasuki gua karena situasinya dianggap terlalu berbahaya. Meski demikian, proses pengurangan volume air dari luar lokasi masih terus dilakukan.
"Meskipun kami belum mengetahui kondisi terkini kedua orang tersebut, menurunkan ketinggian air di dalam gua merupakan langkah terbaik yang bisa dilakukan saat ini," tulisnya melalui akun Facebook.
"Masih ada persediaan makanan dan perlengkapan bertahan hidup yang telah kami tempatkan di beberapa titik di dalam gua. Jika keajaiban memang ada, saya percaya pengalaman dan kemampuan mereka dapat membantu mereka keluar dengan selamat."
Kengkad sebelumnya juga mengungkapkan bahwa meningkatnya curah hujan menyebabkan ruang kosong di dalam gua semakin menyempit. Pada beberapa titik, jarak antara permukaan air dan langit-langit gua hanya tersisa sekitar 30 sentimeter, jauh lebih sempit dibandingkan saat awal operasi berlangsung.
"Mulai hari ini, intensitas hujan diperkirakan akan semakin meningkat," katanya.
Sejumlah ahli penyelaman gua internasional yang membantu proses pencarian, termasuk Mikko Paasi dari Finlandia dan Yoshitaka Isaji dari Jepang, telah meninggalkan lokasi pada Jumat (5/6).
Sementara itu, lima korban yang berhasil diselamatkan sebelumnya ditemukan berada di lorong sempit sekitar 300 meter dari pintu masuk gua. Berdasarkan keterangan mereka, dua pria yang masih hilang diketahui memasuki area gua secara terpisah sebelum bencana banjir terjadi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....