Krisis Rohingya Terancam Memburuk Akibat Pemangkasan Dana Global
- 03 Jun 2026 04:40 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Dilansir dari Reuters Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) memperingatkan bahwa pemangkasan pendanaan kemanusiaan global berpotensi memperburuk kondisi sekitar 1,2 juta pengungsi Rohingya yang saat ini tinggal di kamp-kamp pengungsian di Bangladesh. Peringatan tersebut disampaikan menjelang peringatan sembilan tahun eksodus besar-besaran warga Rohingya dari Myanmar yang hingga kini masih belum menemukan solusi permanen.
Menurut UNHCR, meningkatnya berbagai krisis kemanusiaan di dunia serta berkurangnya anggaran bantuan dari sejumlah negara donor telah membuat upaya penanganan pengungsi semakin berat. Organisasi kemanusiaan kini menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan layanan dasar seperti pangan, tempat tinggal, layanan kesehatan, pendidikan, dan perlindungan bagi para pengungsi.
Tekanan terhadap sistem bantuan juga semakin meningkat setelah sekitar 150 ribu warga Rohingya kembali melarikan diri dari Myanmar sejak awal 2024 akibat memburuknya situasi keamanan dan konflik di Negara Bagian Rakhine. Gelombang pengungsi baru tersebut menambah beban Bangladesh yang selama bertahun-tahun menjadi negara penampung utama komunitas Rohingya.
Pada Mei 2026, PBB bersama Pemerintah Bangladesh meluncurkan seruan pendanaan senilai 710,5 juta dolar Amerika Serikat untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaan para pengungsi. Namun hingga saat ini, pendanaan yang berhasil dihimpun baru mencapai sekitar 60 persen dari target yang ditetapkan. Nilai pengajuan bantuan tahun ini juga tercatat 26 persen lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan semakin ketatnya dukungan internasional.
Krisis Rohingya bermula pada Agustus 2017 ketika operasi militer di Rakhine memaksa sekitar 750 ribu warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh. Sejak saat itu, sebagian besar pengungsi tinggal di kawasan Cox’s Bazar yang menjadi salah satu kompleks pengungsian terbesar di dunia. Bangladesh terus memberikan perlindungan meski menghadapi berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan lingkungan akibat tingginya jumlah pengungsi.
Kondisi di kamp pengungsian hingga kini masih jauh dari ideal. Kepadatan penduduk yang tinggi, risiko cuaca ekstrem, ancaman penyakit menular, serta keterbatasan akses pendidikan dan lapangan kerja membuat para pengungsi sangat bergantung pada bantuan internasional. Kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, lanjut usia, dan penyandang disabilitas menjadi pihak yang paling terdampak ketika bantuan mulai berkurang.
Di tengah konflik yang masih berlangsung di Myanmar, peluang pemulangan secara aman dan sukarela masih sangat terbatas. Situasi ini mendorong sebagian pengungsi mengambil risiko dengan menempuh perjalanan laut berbahaya menuju Malaysia atau Indonesia. UNHCR mencatat hampir 900 orang dilaporkan hilang atau meninggal sepanjang 2025 dalam perjalanan tersebut. Karena itu, komunitas internasional didesak untuk terus memberikan dukungan hingga para pengungsi Rohingya dapat kembali ke tanah air mereka dengan aman, bermartabat, dan berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....