Konflik Timur Tengah Dorong Ambisi Nuklir Asia Tenggara

  • 03 Mei 2026 16:34 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Konflik yang melibatkan Iran di kawasan Timur Tengah berpotensi mempercepat ambisi negara-negara Asia Tenggara dalam mengembangkan energi nuklir. Ketegangan geopolitik yang berdampak pada pasokan energi global membuat kawasan ini semakin menyadari pentingnya mengurangi ketergantungan pada impor minyak dan gas dari Timur Tengah.

Penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menangani sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, menjadi peringatan serius bagi stabilitas energi global. Gangguan di jalur ini langsung berdampak pada lonjakan harga energi, yang kemudian memicu tekanan ekonomi dan risiko gangguan sistem kelistrikan di banyak negara Asia Tenggara.

Para ahli menilai kondisi ini memperkuat urgensi diversifikasi sumber energi. Ketergantungan tinggi terhadap bahan bakar fosil impor membuat kawasan rentan terhadap fluktuasi harga dan konflik geopolitik. Dalam konteks ini, energi nuklir mulai dilihat sebagai solusi strategis untuk memastikan pasokan listrik yang stabil dan berkelanjutan.

Menurut pengamat komoditas dari Citibank, Arkady Gevorkyan, gangguan pasokan minyak dan gas telah meningkatkan biaya pembangkitan listrik, khususnya untuk kebutuhan beban dasar. Energi nuklir dinilai mampu menyediakan listrik secara konsisten tanpa bergantung pada kondisi cuaca, berbeda dengan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin.

Selain itu, energi nuklir memiliki keunggulan dalam hal emisi yang rendah dan efisiensi tinggi. Teknologi ini mampu menghasilkan energi dalam jumlah besar dengan jejak lahan yang relatif kecil, serta mendukung sektor industri berat dan pusat data yang membutuhkan pasokan listrik stabil sepanjang waktu.

Minat terhadap energi nuklir di kawasan ini pun terus meningkat. Negara seperti Vietnam, Indonesia, Thailand, dan Filipina telah memasukkan nuklir dalam rencana pengembangan energi mereka. Bahkan, Vietnam telah menandatangani kerja sama dengan Rusia untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2030.

Meski demikian, pengembangan energi nuklir bukan solusi instan. Proyek ini membutuhkan investasi besar, waktu panjang, serta kesiapan regulasi dan sumber daya manusia. Negara seperti Malaysia dan Singapura masih berada pada tahap kajian dan persiapan kebijakan, menunjukkan bahwa nuklir lebih merupakan strategi jangka panjang daripada respons cepat terhadap krisis saat ini.

Secara keseluruhan, konflik Timur Tengah telah menjadi “alarm” bagi Asia Tenggara untuk memperkuat ketahanan energi. Meski implementasi nuklir masih membutuhkan waktu, arah kebijakan mulai bergeser, menjadikan energi nuklir sebagai bagian penting dalam strategi masa depan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan energi kawasan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....