Singapura Bangun Jembatan Cetak 3D Pertama di Jurong, Target Rampung 2028

  • 06 Apr 2026 17:05 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Pemerintah Singapura bersiap menghadirkan jembatan pejalan kaki berbahan beton hasil teknologi cetak 3D pertama, yang ditargetkan mulai digunakan pada 2028. Infrastruktur ini dirancang untuk mempercepat konektivitas antara kawasan Jurong West dan Tengah, sebagaimana disampaikan oleh Land Transport Authority (LTA).

Jembatan tersebut akan dibangun dengan panjang sekitar 10 meter dan lebar 5 meter, serta dapat dimanfaatkan baik oleh pejalan kaki maupun pesepeda.

Dilansir dari CNA, inisiatif ini merupakan bagian dari strategi Singapura dalam meningkatkan efisiensi sektor konstruksi di tengah keterbatasan tenaga kerja, melalui pemanfaatan teknologi pencetakan beton 3D. Proyek ini melibatkan kolaborasi dengan Nanyang Technological University melalui Singapore Centre for 3D Printing, perusahaan konsultan teknik Witteveen+Bos, serta perusahaan konstruksi CES_Innovfab.

Dalam pengembangannya, tim proyek menyusun formulasi material berbasis semen yang sesuai dengan teknologi cetak 3D, merancang struktur jembatan, serta membuat model skala untuk menguji kekuatan konstruksi. Uji coba terhadap model tersebut telah rampung dilakukan bulan lalu, dan hasilnya kini tengah dianalisis sebelum masuk ke tahap pembangunan sebenarnya.

Metode cetak beton 3D sendiri merupakan teknik konstruksi modern yang mengandalkan sistem otomatis, di mana material beton dicetak secara berlapis melalui nozzle tanpa memerlukan cetakan tambahan.

“Di Singapura yang kekurangan tenaga kerja, metode ini berpotensi menghemat tenaga dan waktu dengan mengurangi kebutuhan struktur sementara dan pekerjaan manual dalam proses konstruksi,” ujar LTA.

Selain efisiensi, teknologi ini juga membuka peluang desain yang lebih fleksibel dan kompleks dibandingkan metode konvensional.

Meski begitu, LTA menilai teknologi ini masih berada dalam tahap awal penerapan di sektor infrastruktur.

“Proyek ini merupakan uji coba untuk menilai kelayakannya pada aplikasi tertentu dalam pembangunan infrastruktur, dan kami akan terus mengeksplorasi potensinya melalui uji coba lanjutan sambil mengikuti perkembangan teknologi yang ada.”

Dalam desainnya, jembatan ini akan terdiri dari 10 bagian beton yang disusun menjadi satu kesatuan. Setiap segmen akan dihubungkan menggunakan kabel baja yang membentang di sepanjang struktur.

Kabel tersebut akan dipasang pada blok beton di kedua ujung jembatan dan kemudian dikencangkan melalui metode post-tensioning, sehingga seluruh segmen menyatu menjadi struktur yang kokoh.

Model skala yang dibuat, dengan ukuran panjang 10 meter dan lebar 2,5 meter, telah diuji menggunakan tangki berisi air guna mengukur kekuatan serta standar keselamatan.

Menanggapi hal ini, Wakil Direktur Desain Jalan dan Teknologi Infrastruktur LTA, Allan Yeo, menyatakan bahwa kapasitas beban jembatan tersebut setara dengan jembatan pejalan kaki pada umumnya.

Ia juga menjelaskan bahwa pengujian dilakukan menggunakan 18 tangki air dengan berat masing-masing sekitar satu ton.

“Pengujian model skala telah selesai dilakukan, dan data dari sensor saat ini sedang dianalisis untuk memvalidasi perhitungan desain serta memastikan integritas struktur,” kata LTA.

“Jika hasilnya memuaskan, kami akan melanjutkan pembangunan jembatan ukuran penuh yang nantinya juga akan melalui pengujian serupa sebelum dibuka untuk umum,” tambahnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....