Kisah Gunung Uhud Ajarkan Kecintaan kepada Rasulullah
- 11 Sep 2026 20:07 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Gunung Uhud memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam karena berkaitan erat dengan perjuangan Rasulullah saw.
- Ustaz Dr. Saifuddin membahas hadis tentang Gunung Uhud yang mencintai Rasulullah saw dan umatnya dalam acara Kuliah Subuh RRI Pro 1 Banjarmasin.
- Hadis yang dibahas diriwayatkan oleh dua imam hadis terkemuka, yaitu Imam Bukhari dan Imam Muslim.
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Gunung Uhud memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam dan berkaitan erat dengan perjuangan Rasulullah saw. Hal itu disampaikan Ustaz Dr. Saifuddin, M.Ag., dalam Kuliah Subuh RRI Pro 1 Banjarmasin, Jumat, 11 September 2026.
Ustaz Saifuddin membahas hadis tentang Gunung Uhud yang mencintai Rasulullah saw dan umatnya. Hadis tersebut diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim.
“Ini gunung yang mencintai kita dan kita mencintainya. “Hadis ini sahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim,” ucapnya.
Menurut Saifuddin, hadis tersebut dapat dipahami secara kiasan maupun hakiki. Secara hakiki, kecintaan Gunung Uhud merupakan salah satu bentuk mukjizat yang Allah berikan kepada Rasulullah saw.
“Kalau gunung saja mencintai Rasulullah, kita sebagai umat beliau tentunya lebih mencintai,” ujarnya. “Mestinya kita sebagai umat beliau lebih mencintai Rasulullah.”
Perang Uhud menjadi ujian berat bagi kaum muslimin setelah sempat unggul dalam pertempuran. Keadaan berubah setelah sebagian pasukan tidak mematuhi strategi Rasulullah saw sehingga pasukan Quraisy berbalik menyerang dan sejumlah kaum muslimin gugur.
Dalam peristiwa tersebut, Rasulullah saw sempat dikabarkan gugur sehingga para sahabat yang kehilangan orang-orang terdekat tetap mencari keberadaan beliau. Kondisi itu menunjukkan besarnya kecintaan dan kepedulian para sahabat kepada Rasulullah saw.
“Ini bukti kecintaan sahabat kepada Rasulullah, melebihi cintanya kepada orang tua, kakak, dan saudaranya. Kita yang membaca sirah saja sangat sedih sekali,” kata Saifuddin.
Perang Uhud terjadi pada tahun ketiga Hijriah dan menyebabkan gugurnya sejumlah sahabat, termasuk Hamzah bin Abdul Muththalib. Peristiwa tersebut menjadi pelajaran penting bagi umat agar tidak cepat puas ketika meraih keberhasilan.
Saifuddin menilai ketaatan, kewaspadaan, strategi, dan keteguhan diperlukan dalam setiap perjuangan. Sikap tersebut harus dijaga hingga tujuan yang ingin dicapai benar-benar terwujud.
“Jangan cepat puas karena perjuangan belum selesai,” ujarnya. “Kita harus fokus meraih tujuan dan istiqamah sampai benar-benar mencapai titik yang kita tuju.”
Kisah Gunung Uhud dan Perang Uhud menjadi pengingat pentingnya mencintai Rasulullah saw serta menjaga ketaatan dalam perjuangan. Nilai tersebut dapat diterapkan umat Islam dengan tetap teguh, waspada, dan istiqamah dalam menjalani kehidupan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....