Maulid Nabi Muhammad Bukan Sekadar Seremonial dan Kemeriahan
- 11 Sep 2026 20:21 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Peringatan Maulid Nabi tidak boleh hanya sekadar kemeriahan acara, tetapi harus menjadi momentum untuk meneladani akhlak Rasulullah saw dalam kehidupan sehari-hari.
- Kecintaan kepada Nabi perlu diwujudkan melalui perilaku yang mencerminkan nilai-nilai rahmat, kejujuran, keadilan, dan kasih sayang.
- Makna Maulid akan lebih kuat ketika peringatannya mendorong umat untuk mempelajari sirah Nabi, memperbanyak selawat, dan menghidupkan ajaran yang beliau sampaikan.
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Peringatan Maulid Nabi seharusnya tidak berhenti pada kemeriahan acara, tetapi menjadi momentum untuk meneladani akhlak Rasulullah saw. Kecintaan kepada Nabi perlu diwujudkan dalam perilaku yang mencerminkan nilai rahmat, kejujuran, keadilan, dan kasih sayang.
Makna Maulid akan lebih kuat ketika peringatannya mampu mendorong umat mempelajari sirah Nabi, memperbanyak selawat, serta menghidupkan ajaran yang beliau sampaikan. Hal tersebut disampaikan Dosen Prodi PBA FTK UIN Antasari Banjarmasin, Dr. Hasbullah, S.Ag., M.H.I., dalam program Lentera Kehidupan RRI Pro1 Banjarmasin, Jumat, 11 September 2026.
“Maulid Nabi sebaiknya tidak dipahami semata-mata sebagai perayaan hari kelahiran, tetapi sebagai momentum untuk memperkuat mahabbah kepada Rasulullah saw,” ujar Hasbullah. “Kecintaan itu harus diwujudkan dengan mengikuti petunjuk, akhlak, dan nilai-nilai yang beliau ajarkan.”
Menurutnya, Rasulullah saw merupakan teladan bagi orang-orang beriman sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an. Karena itu, kebermaknaan Maulid tidak semata-mata diukur dari besar atau meriahnya kegiatan, tetapi dari perubahan sikap setelah peringatan tersebut.
“Ukuran kebermaknaan Maulid bukan semata-mata kemeriahan acaranya, melainkan sejauh mana peringatan itu mampu melahirkan kecintaan yang lebih mendalam kepada Nabi Muhammad saw,” ucapnya. “Kecintaan tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk ittiba', yaitu mengikuti petunjuk dan akhlak beliau.”
Hasbullah menerangkan bahwa Maulid juga dapat menjadi ruang untuk mengingat kembali besarnya perubahan yang dibawa Nabi Muhammad saw bagi kehidupan manusia. Momentum tersebut idealnya mendorong umat menerapkan nilai-nilai risalah Nabi dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya mengungkapkannya dalam ucapan.
“Peringatan Maulid idealnya menjadi sarana mentransformasikan kecintaan kepada Nabi dari sekadar ekspresi verbal dan seremonial menjadi praktik kehidupan,” kata Hasbullah. “Nilai rahmat, keadilan, kejujuran, kasih sayang, dan akhlak mulia harus terlihat dalam perilaku umat.”
Peringatan Maulid diharapkan tidak hanya memperkuat kecintaan umat kepada Rasulullah saw, tetapi juga mendorong perubahan sikap dan perilaku. Keteladanan tersebut dapat diwujudkan melalui akhlak mulia serta penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....