Maknai Maulid Nabi dengan Meningkatkan Kecintaan kepada Rasulullah
- 11 Sep 2026 08:57 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw berfungsi sebagai momentum untuk mensyukuri nikmat Allah Swt, bukan hanya sekadar pengingat tanggal kelahiran Rasulullah.
- Maulid Nabi menjadi sarana menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah sekaligus meneladani ajaran dan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.
- Rasulullah Muhammad saw adalah rahmat bagi seluruh alam sesuai dengan firman Allah Swt dalam Surat Al-Anbiya ayat 107.
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw bukan hanya menjadi pengingat tentang waktu kelahiran Rasulullah, tetapi juga momentum untuk mensyukuri nikmat Allah Swt. Peringatan Maulid Nabi juga menjadi sarana menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah sekaligus meneladani ajaran dan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan oleh Ustaz Muhammad Abrar Noor, S.Th.I. dalam acara Hikmah Subuh di RRI Pro4 Banjarmasin, Jumat, 11 September 2026. Menurutnya, Rasulullah saw merupakan rahmat bagi seluruh alam sebagaimana firman Allah Swt dalam QS Al-Anbiya ayat 107.
“Kelahiran Nabi adalah bagian dari hadirnya insan terbaik yang membawa risalah Islam sekaligus menjadi rahmat bagi seluruh kehidupan,” ujar Ustaz Abrar. “Karena itu, kelahiran beliau patut disyukuri dan dijadikan momentum untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah saw.”
Ia menjelaskan rasa cinta kepada Rasulullah saw tidak cukup hanya diwujudkan melalui ucapan. Kecintaan tersebut harus dibuktikan dengan berusaha mengikuti ajaran, sunah, dan tuntunan Nabi Muhammad saw.
“Jika seseorang mengaku mencintai Rasulullah saw, salah satu buktinya adalah berusaha mengikuti sunah dan meneladani kehidupannya,” katanya. “Kecintaan itu harus terlihat dalam sikap, ibadah, dan perilaku kita sehari-hari.”
Ustaz Abrar menyebut ibadah, akhlak, kejujuran, kasih sayang, kesabaran, dan perjuangan Nabi Muhammad saw merupakan teladan bagi umat manusia. Karena itu, seorang muslim hendaknya mempelajari sirah Nabi bukan sekadar untuk mengetahui sejarah, tetapi juga menerapkan nilai-nilai keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga mengingatkan umat Islam untuk memperbanyak selawat sebagai salah satu bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad saw. Hal tersebut sejalan dengan firman Allah Swt dalam QS Al-Ahzab ayat 56 tentang perintah berselawat kepada Rasulullah.
Menurutnya, kewajiban beriman, mencintai, dan mengikuti Rasulullah saw perlu dibedakan dengan pelaksanaan Maulid Nabi pada waktu dan dalam bentuk tertentu. Peringatan Maulid dapat menjadi sarana penghayatan, sedangkan keimanan dan keteladanan kepada Rasulullah merupakan kewajiban seorang muslim.
“Beriman kepada Rasulullah saw, membenarkan risalahnya, mencintai, dan mengikuti sunahnya adalah kewajiban,” kata Ustaz Abrar. “Berbeda dengan pelaksanaan Maulid pada waktu dan bentuk tertentu.”
Ia menegaskan inti memperingati Maulid Nabi bukan sekadar mengetahui kapan Rasulullah saw dilahirkan. Momentum tersebut seharusnya menjadi sarana introspeksi untuk mengukur sejauh mana kecintaan umat Islam kepada Nabi dan penerapan akhlaknya dalam kehidupan.
“Jadi, kita mengenang Rasulullah agar hati kembali bertanya, seberapa besar cinta kita kepada beliau,” ujarnya. “Kita juga perlu melihat sejauh mana kita sudah mengikuti sunah dan akhlak beliau dalam kehidupan.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....