Kemarau Panjang Picu Kematian Ratusan Kilogram Ikan di Banjarmasin

  • 13 Agt 2026 21:33 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Ancaman musim kemarau mulai berdampak buruk pada keberlangsungan budidaya ikan keramba jaring apung di Banua Anyar, Banjarmasin. Ratusan kilogram ikan milik pembudidaya mati mendadak akibat penurunan debit serta perubahan kualitas air sungai.

Kondisi tersebut salah satunya dirasakan oleh Salamiah, seorang pembudidaya yang mengalami kerugian cukup besar. Lebih dari 480 kilogram ikan patin miliknya mati dampak fenomena kemarau yang lebih kering tahun ini.

"Paling banyak itu patin, tapi ada juga jenis yang lain seperti bawal, papuyu, toman. Setiap hari ada terus yang mati, tapi sedikit, tidak banyak seperti patin kemarin," katanya, Kamis, 13 Agustus 2026.

Menurut Salamiah, Peristiwa fenomena kematian ikan ini menjadi dampak paling parah jika dibandingkan dengan kondisi tahun-tahun sebelumnya. Akibat musibah ini, ia memperkirakan total kerugian materiil yang dideritanya mencapai lebih dari Rp10 juta.

Pemilik 32 keramba jaring apung tersebut kini rutin melakukan langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang. Selain memantau kualitas air, ia sengaja mengosongkan sejumlah keramba guna mengurangi kepadatan populasi ikan.

"Sementara dikurangi dulu isinya biar tidak terlalu padat. Biasanya satu keramba ada 2.000 bibit ikan, sekarang kita kurangi jadi 1.000," ujarnya menambahkan.

Dampak fenomena kemarau panjang ini turut dirasakan oleh puluhan pemilik keramba jaring apung di lokasi sekitar. Koordinator Penyuluh Perikanan DKP3 Banjarmasin Roslina menyebut faktor cuaca ekstrem menjadi penyebab utama kematian ikan.

Pihaknya memastikan jajaran petugas terus memantau kondisi lapangan untuk mendampingi para kelompok pembudidaya. Roslina mengimbau para pembudidaya ikan untuk rutin mengamati perubahan fisik air sungai secara berkala.

"Walaupun para pembudidaya ini tidak memiliki peralatan teknis untuk pengecekan air. Tapi dari pengalaman panjang sebagai pembudidaya, mereka sudah tahu saat kondisi air sedang tidak baik," katanya menjelaskan.

Roslina turut mengingatkan pembudidaya agar mengatur kepadatan bibit demi menjaga ketersediaan pasokan oksigen di keramba. Pengaturan pola pemberian pakan juga dinilai sangat penting selama masa kemarau berlangsung.

"Kalau memang sudah mencukupi standar, segera dipanen. Tujuannya agar mengantisipasi terjadinya kematian ikan yang lebih masif," ucap Roslina.

Sementara itu, berdasarkan data BMKG diprediksi puncak musim kemarau di wilayah Kalimantan Selatan terjadi pada September mendatang. Kondisi cuaca kering yang panjang ini pun mengancam keberlangsungan sektor budidaya perikanan di Kota Banjarmasin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....