Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalsel Picu Kematian Bekantan
- 21 Sep 2026 15:23 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menghantui Kalimantan Selatan tidak hanya mengancam keselamatan dan aktivitas masyarakat, tetapi juga mengancam keberlangsungan hidup satwa liar. Bekantan sebagai primata ikonik Banua, bersama berbagai satwa liar lainnya, turut menjadi korban akibat habitat yang terbakar dan semakin kehilangan ruang untuk berlindung.
Founder Sahabat Bekantan Indonesia, Amalia Rezeki, menyebut kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak serius terhadap populasi bekantan di Kalimantan Selatan. Berdasarkan informasi BKSDA dan masyarakat, terdapat belasan ekor bekantan yang terdeteksi menjadi korban kebakaran.
Namun, Amalia memperkirakan jumlah bekantan yang menjadi korban sebenarnya lebih banyak dari data yang ditemukan di lapangan. "Kalau jelas terdeteksi dari bentuk morfologi, dari info BKSDA dan masyarakat ada belasan ekor bekantan yang menjadi korban, tapi asumsi saya jumlah korban itu lebih dari data," ujarnya kepada RRI, Senin 21 September 2026.
Menurutnya, kuatnya kobaran api dapat membuat tubuh bekantan yang menjadi korban tidak lagi terlihat secara utuh. Oleh karena itu, jika korban di luar kawasan konservasi turut diperhitungkan, jumlahnya diperkirakan bisa mencapai puluhan ekor atau bahkan lebih.
Bekantan merupakan satwa arboreal yang sebagian besar aktivitasnya dilakukan di atas pohon, tetapi kondisi karhutla membuat satwa tersebut terpaksa turun ke permukaan tanah. "Ada yang ditemukan terbakar atau terpanggang, ada yang full ataupun separo terbakar, ini menjadi gambaran bahwa kebakaran hutan kali ini lebih parah dari kejadian tahun sebelumnya," kata Amalia.
Kondisi tersebut semakin berbahaya ketika kebakaran terjadi di lahan gambut yang masih menyimpan bara api di dalam tanah. Amalia menjelaskan, terdapat kondisi yang disebut dom, ketika permukaan terlihat seperti sudah padam, padahal di dalam tanah masih tersimpan bara yang dapat kembali membakar.
Menurut Amalia, kondisi tanah gambut yang masih menyimpan bara menjadi ancaman bagi bekantan yang terpaksa turun dari pohon. "Kalau primata atau bekantan menginjakkan kaki di tanah itu pasti terbakar, jadi banyak ditemukan bekantan dengan kondisi kaki yang terbakar, bahkan ada yang sampai putus jari-jarinya," katanya.
Ia menjelaskan, banyak pohon yang terbakar menyebabkan bekantan kehilangan tempat beraktivitas dan berlindung sehingga turun ke tanah tanpa mengetahui kondisi gambut yang masih panas. Situasi tersebut membuat sejumlah satwa liar terjebak dan kesulitan menyelamatkan diri dari kepungan api.
Bahkan, di kawasan KM 17 Jalan A Yani, ditemukan individu bekantan yang bergelantungan di kabel karena habitat di sekitarnya terbakar. Amalia mengatakan, saat kunjungan sebelumnya, kawasan tersebut sudah mengalami kebakaran dan kondisi hutannya tidak lagi memungkinkan bagi bekatan untuk bertahan hidup.
Oleh sebab itu, Amalia berharap instansi terkait dapat memperkuat upaya penyelamatan dan rehabilitasi bekantan yang terdampak karhutla. Ia juga mendorong langkah pencegahan dan penanganan karhutla dilakukan lebih dini, terutama di kawasan gambut, agar kebakaran tidak terus meluas dan menimbulkan dampak lebih besar terhadap ekosistem serta keberlangsungan satwa liar di dalamnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....