Hasil Hutan Bukan Kayu Berpotensi Jadi Peluang Ekonomi Berkelanjutan
- 02 Jul 2026 12:37 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Hutan di Kalimantan Selatan memiliki potensi ekonomi yang besar melalui pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK). Potensi tersebut dinilai dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Hal tersebut disampaikan Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat, Dr. Ir. Zainal Abidin, M.P., yang juga pakar teknologi hasil hutan, dalam siaran "Green Radio" RRI Pro1 Banjarmasin, Minggu, 27 Juni 2026. Menurutnya, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.
"Daerah Kalimantan Selatan yang memiliki potensi hutan paling kecil harus mulai konsen beralih ke hasil hutan bukan kayu. Langkah ini menjadi salah satu alternatif pemanfaatan hutan yang berkelanjutan," ujar Zainal.
Ia menjelaskan, keterbatasan kawasan hutan produksi di Kalimantan Selatan menuntut adanya inovasi pemanfaatan sumber daya hutan tanpa merusak ekosistem. Pengembangan hasil hutan bukan kayu dinilai mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa harus menebang pohon.
Menurut Zainal, pemerintah daerah melalui sembilan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) telah memfasilitasi kelompok tani hutan melalui program perhutanan sosial. Program tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat mengelola potensi hutan secara legal dan berkelanjutan.
"Langkah awal ini diharapkan mampu mengubah pola pikir masyarakat dari penonton menjadi aktor utama ekonomi berbasis hutan. Masyarakat harus menjadi pelaku utama dalam memanfaatkan potensi hutan secara lestari," katanya.
Ia menyebutkan sejumlah komoditas hasil hutan bukan kayu yang memiliki nilai ekonomi tinggi di Kalimantan Selatan, seperti madu kelulut, kopi Meratus, kemiri, dan tanaman purun untuk kerajinan. Selain itu, pemanfaatan jasa lingkungan melalui pengembangan ekowisata juga dinilai mampu meningkatkan pendapatan masyarakat.
"Pemanfaatan jasa lingkungan seperti ekowisata juga terbukti memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat di Kotabaru dan Tanah Laut. Potensi ini perlu terus dikembangkan secara berkelanjutan," ujarnya.
Zainal menambahkan, pengembangan hasil hutan bukan kayu secara tidak langsung turut mendorong masyarakat menjaga kelestarian hutan. Keberlangsungan usaha seperti madu kelulut dan kopi sangat bergantung pada kondisi ekosistem yang tetap terjaga.
"Sinergi antara perlindungan ekosistem dan peningkatan pendapatan merupakan kunci utama pembangunan daerah yang berkelanjutan. Keduanya harus berjalan seiring agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang," ucapnya.
Zainal mengajak seluruh masyarakat menjaga kelestarian hutan. Menurutnya, hutan merupakan warisan yang harus dijaga untuk generasi mendatang.
"Tanggung jawab kita bersama untuk mewariskan sesuatu yang bagus dan bermanfaat terhadap sumber daya alam ini. Kelestarian hutan harus dijaga demi keberlangsungan hidup generasi penerus," kata Zainal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....