Karhutla dan Intrusi Air Laut Ancam Habitat Bekantan
- 21 Sep 2026 15:46 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Karhutla dan intrusi air laut menjadi ancaman bagi habitat bekantan di Kalimantan Selatan.
- Salinitas tinggi berdampak pada ketersediaan air bersih dan sumber makanan bekantan.
- Sejumlah vegetasi sumber pakan bekantan mengalami tekanan hingga meranggas dan menggugurkan daun.
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Musim kemarau membawa ancaman berlapis bagi keberlangsungan primata, khususnya bekantan di Kalimantan Selatan. Selain kebakaran hutan dan lahan (karhutla), habitat bekantan juga menghadapi tekanan akibat intrusi air laut yang meningkatkan salinitas di kawasan sungai.
Founder Sahabat Bekantan Indonesia, Amalia Rezeki, mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pegiat konservasi yang berada di lapangan. Selain satwa liar, masyarakat yang tinggal di sekitar habitat bekantan juga menghadapi kesulitan memperoleh air bersih.
“Ancaman primata dengan hilangnya rumah primata akibat karhutla, di musim kemarau ini, tidak hanya karhutla yang mengancam,” kata Amalia kepada RRI, Senin, 21 September 2026. “Ketersediaan makanan hingga air bersih untuk hewan maupun masyarakat yang tinggal di sekitar sungai dan hutan ikut terancam.”
Ia menjelaskan kawasan sungai yang menjadi bagian dari habitat bekantan kini turut terdampak masuknya air laut. Kondisi tersebut menyebabkan salinitas air meningkat dan semakin memperberat kebutuhan air bagi satwa maupun masyarakat sekitar.

“Jadi kawasan sungai kita juga terintrusi air laut sehingga salinitasnya cukup tinggi. Ini menjadi tantangan teman-teman konservasi di lapangan,” ujarnya.
Menurut Amalia, kondisi tersebut membuat satwa liar dan masyarakat di sekitar habitat semakin kesulitan memperoleh air bersih. Tekanan lingkungan pada musim kemarau juga berdampak terhadap ketersediaan sumber makanan bagi bekantan yang bergantung pada vegetasi di habitat alaminya.
“Selain itu, ancamannya juga terhadap ketersediaan makanan dan air bersih. Keduanya menjadi kebutuhan penting bagi keberlangsungan hidup bekantan dan masyarakat di sekitar habitat,” katanya.
| Baca juga: Rumah Bekantan Terancam Karhutla |
Tekanan lingkungan akibat salinitas tinggi turut memengaruhi sejumlah tumbuhan yang menjadi sumber pakan bekantan. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi ketersediaan pakan dan menambah tantangan dalam upaya konservasi primata di habitat alaminya.
Amalia mengatakan sejumlah vegetasi bahkan mengalami tekanan lingkungan hingga meranggas dan menggugurkan daun akibat tingginya salinitas. Padahal, tumbuhan tersebut merupakan sumber pakan penting bagi bekantan sehingga perubahan kondisi lingkungan perlu menjadi perhatian dalam upaya konservasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....