Antrean Jalur Biosolar Mengular, Pertamina Sebut imbas Migrasi Konsumen

  • 30 Jun 2026 04:20 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Pemandangan antrean truk yang mengular kini mewarnai sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Banjarmasin. Puluhan armada besar rela mengantre demi mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis biosolar.

Salah satu titik kepadatan berada di kawasan Jalan Ahmad Yani Kilometer 6, tepat di sekitar batas Kota Banjarmasin. Saat volume kendaraan meningkat, panjang antrean truk di lokasi tersebut bahkan dapat memanjang hingga 1 kilometer.

Salah seorang sopir truk, Anang, mengaku sengaja masuk ke jalur antrean sejak siang hari untuk mengamankan kuota biosolar. Langkah tersebut ia pilih untuk menjaga kestabilan biaya operasionalnya.

"Kalau langsung beli di SPBU harganya kan jauh lebih murah. Di luaran itu ecerannya bisa mahal sampai dua kali lipat," katanya kepada RRI, Senin malam, 29 Juni 2026.

Armada milik Anang sendiri merupakan truk pengangkut bahan material, mulai dari pasir, tanah, hingga bebatuan. Meski harus menghadapi antrean yang cukup panjang, ia mengungkapkan selama ini selalu berhasil mendapatkan solar.

"Alhamdulillah kita selalu dapat kalau mengantre di sini. Tapi, memang kalau masuknya dari siang, baru bisa dapat giliran pengisian malam hari," ujar Anang menjelaskan.

Sesuai aturan pengisian yang berlaku, tangki armada milik Anang biasanya diisi penuh hingga batas maksimal 80 liter dalam satu hari. Pasokan tersebut diperkirakan mencukupi kebutuhan perjalanan hingga 6 hari, tergantung pada jarak yang ia tempuh.

Di sisi lain, harapan besar datang dari para sopir agar ada upaya nyata dari pemangku kepentingan untuk meminimalkan antrean. Langkah antisipasi tersebut sangat dinantikan demi kenyamanan bersama seluruh pengguna.

Sementara itu, terjadinya peningkatan kepadatan truk di sejumlah SPBU dikonfirmasi oleh Sales Area Manager Retail Pertamina Kalsel, Bondan Tri Wibowo. Menurutnya, fenomena ini dipicu oleh adanya penyesuaian harga pada komoditas BBM nonsubsidi.

Di Kalimantan Selatan, harga solar subsidi saat ini bertahan di angka Rp6.800 per liter. Sementara untuk BBM nonsubsidi jenis Dexlite dibanderol seharga Rp24.000 per liter, dan Pertamina Dex menyentuh angka Rp25.900 per liter.

"Peningkatan antrean terjadi karena adanya peralihan sebagian pengguna dari nonsubsidi ke jalur subsidi. Selain itu, dapat juga terjadi akibat adanya kemungkinan pengguna yang tidak berhak mencoba melakukan pembelian di SPBU," kata Bondan.

Merespons kondisi tersebut, koordinasi dengan pemerintah daerah terus diperkuat untuk mengawal proses distribusi di lapangan. Pengawasan ketat ini dilakukan agar proses penyaluran BBM subsidi bisa benar-benar tepat sasaran.

Imbauan juga disampaikan kepada masyarakat agar menggunakan bahan bakar sesuai dengan ketentuan regulasi. Kepatuhan dari konsumen menjadi faktor penting agar kuota yang tersedia dapat didistribusikan secara adil.

Di lapangan, guna menghindari kemacetan lalu lintas, pembatasan jam operasional khusus untuk pengisian solar subsidi kini mulai diberlakukan oleh sejumlah SPBU. Jalur pengisian baru dibuka pada malam hari agar arus tidak mengganggu arus kendaraan, terutama pada jam padat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....