Terapi Alam Jadi Solusi Menjaga Kesehatan Mental Masyarakat

  • 21 Jun 2026 19:23 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Keterbatasan ruang terbuka hijau (RTH) di kawasan perkotaan dinilai dapat memengaruhi kesehatan mental masyarakat. Kondisi tersebut memicu munculnya fenomena yang dikenal sebagai nature deficit disorder atau gangguan akibat minimnya interaksi dengan alam.

Isu tersebut menjadi pembahasan dalam siaran Lentera Kehidupan RRI Pro1 Banjarmasin, Jumat, 19 Juni 2026, yang menghadirkan Mufida Istati, M.Pd., Dosen Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam UIN Antasari Banjarmasin. Menurutnya, urbanisasi dan pesatnya pembangunan membuat masyarakat semakin jauh dari lingkungan alami.

Mufida menjelaskan bahwa kedekatan dengan unsur-unsur alam memiliki manfaat besar bagi kesehatan psikologis. Keberadaan pepohonan, udara segar, dan suasana yang asri dapat membantu meredakan stres serta meningkatkan kemampuan kognitif seseorang.

“Terapi alam dengan menikmati pengindraan kita pada unsur-unsur alam memiliki keuntungan lebih besar untuk merelaksasi psikologis. Interaksi dengan lingkungan hijau dapat membantu seseorang merasa lebih tenang dan nyaman,” ujar Mufida.

Ia menambahkan, kurangnya interaksi dengan ruang hijau berpotensi meningkatkan risiko kecemasan, terutama pada kelompok yang memiliki tekanan aktivitas tinggi seperti mahasiswa. Karena itu, keberadaan ruang terbuka hijau menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan mental masyarakat.

Menurutnya, berada di luar ruangan dengan suasana yang sejuk dan nyaman dapat membantu menenangkan pikiran dari kepenatan aktivitas sehari-hari. Namun, tidak sedikit masyarakat perkotaan yang memilih pusat perbelanjaan sebagai tempat melepas penat karena keterbatasan ruang terbuka hijau.

Selain itu, ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga menjadi tantangan tersendiri bagi kesehatan mental masyarakat. Situasi tersebut dapat memicu rasa tertekan dan trauma, terutama pada anak-anak yang harus membatasi aktivitas di luar rumah.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Mufida memperkenalkan pendekatan eco-counseling atau konseling berbasis lingkungan. Metode ini bertujuan membantu masyarakat beradaptasi dengan kondisi lingkungan sekaligus menjaga kesehatan psikologis secara lebih baik.

“Kita bisa menyiasati keterbatasan ruang terbuka dengan menghadirkan unsur alam di dalam ruangan, seperti tanaman berpot. Cara sederhana ini dapat membantu menciptakan suasana yang lebih nyaman dan menenangkan,” katanya.

Ia menilai pemanfaatan tanaman hias maupun hidroponik di rumah, sekolah, atau tempat kerja dapat menjadi alternatif untuk menghadirkan suasana alami. Langkah tersebut juga diyakini mampu memberikan dampak positif bagi kesehatan mental, khususnya di lingkungan yang minim lahan hijau.

Mufida turut menyoroti pentingnya sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam menjaga kelestarian lingkungan. Program seperti Gerakan Adiwiyata dinilai dapat menjadi upaya untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih hijau dan ramah bagi tumbuh kembang peserta didik.

Menurutnya, menjaga lingkungan tidak hanya berkaitan dengan pelestarian alam, tetapi juga investasi jangka panjang bagi kesehatan mental masyarakat. Kebiasaan sederhana seperti memilah sampah dan merawat tanaman dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....