Perubahan Iklim Berpengaruh terhadap Kesehatan Mental Masyarakat
- 21 Jun 2026 20:29 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Perubahan iklim dan cuaca panas ekstrem yang terjadi di Kota Banjarmasin tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik masyarakat. Kondisi lingkungan yang semakin berubah juga berpengaruh terhadap stabilitas emosi dan kesehatan mental individu.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam siaran dialog interaktif Lentera Kehidupan RRI Pro1 Banjarmasin, Jumat, 19 Juni 2026, bersama Mufida Istati, M.Pd., Dosen Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam UIN Antasari Banjarmasin. Menurutnya, kualitas lingkungan tempat tinggal memiliki hubungan erat dengan kenyamanan psikologis seseorang.
Mufida menjelaskan bahwa cuaca panas, polusi udara, dan berkurangnya ruang hijau dapat menjadi faktor eksternal yang memicu stres. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi produktivitas, suasana hati, hingga kemampuan seseorang dalam mengelola emosi.
“Ketika cuaca panas, itu merupakan salah satu faktor eksternal yang dapat memengaruhi kondisi psikologis kita,” ujar Mufida. Kesehatan mental tidak hanya dipengaruhi aspek psikologis, tetapi juga berkaitan dengan kondisi fisik, moral, dan spiritual seseorang.”
Ia menambahkan, paparan lingkungan yang tidak nyaman dalam jangka panjang dapat memicu ketegangan emosional. Oleh karena itu, masyarakat perlu menyadari pentingnya menjaga keseimbangan antara kesehatan mental dan lingkungan sekitar.
Selain cuaca panas, ancaman bencana seperti banjir juga dapat memberikan dampak psikologis yang cukup besar. Masyarakat yang pernah mengalami bencana berisiko mengalami trauma, kecemasan berlebihan, hingga gangguan tidur.
Menurut Mufida, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesehatan jiwa manusia tidak dapat dipisahkan dari kelestarian lingkungan. Ketika alam mengalami kerusakan, masyarakat pun dituntut untuk beradaptasi dengan berbagai tekanan yang muncul.
“Kelestarian alam juga dipengaruhi oleh cara manusia mengelola sumber daya alam yang dimiliki. Sebagai khalifah di muka bumi, manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan lingkungan,” katanya.
Ia menilai edukasi mengenai pelestarian lingkungan perlu dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari lingkungan keluarga hingga lembaga pendidikan dan pemerintahan. Kesadaran kolektif masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas lingkungan hidup.
Mufida juga menyoroti perubahan tata ruang yang mengurangi kawasan hijau di perkotaan. Menurutnya, pembangunan yang tidak memperhatikan keseimbangan lingkungan dapat memperburuk kondisi psikologis masyarakat karena berkurangnya ruang yang nyaman dan asri.
Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terlibat aktif dalam menjaga kelestarian alam. Pemulihan kesehatan mental, menurutnya, harus dimulai dari upaya menciptakan lingkungan yang hijau, teduh, dan sehat bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....