Pasar Terapung, Warisan Budaya dan Identitas Masyarakat Banjar

  • 03 Okt 2026 10:38 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Pasar terapung tidak hanya menjadi ruang transaksi jual beli di atas sungai. Pasar terarpung juga bagian dari identitas budaya masyarakat Banjar.

Tradisi yang menggunakan jukung sebagai sarana berdagang tersebut merepresentasikan hubungan erat masyarakat Banjar dengan sungai sekaligus menyimpan berbagai nilai kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

"Pasar terapung perlu dipandang lebih luas, bukan hanya dari sisi ekonomi," kata Dosen Fakultas Syariah UIN Antasari Banjarmasin, Dr. Hj. Mariani, S.H., M.Ag., Sabtu 26 September 2026.

Menurutnya, aktivitas perdagangan di sungai merupakan bagian dari ruang sosial masyarakat. Aktivitas tersebut memperlihatkan nilai kejujuran, kepercayaan, gotong royong, serta hubungan harmonis dengan lingkungan.

“Pasar terapung tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi ekonomi, tetapi juga menjadi ruang sosial yang memperkuat nilai-nilai budaya masyarakat Banjar,” ujarnya

Salah satu nilai yang menarik dalam aktivitas pasar terapung adalah prinsip “kuranglabih”, yakni praktik transaksi yang mengedepankan kepercayaan antara penjual dan pembeli. Prinsip tersebut menunjukkan bahwa perdagangan tradisional masyarakat Banjar memiliki nilai kejujuran dan keadilan yang kuat.

"Nilai tersebut juga memiliki keterkaitan dengan praktik muamalah, terutama dalam membangun transaksi yang dilandasi kepercayaan dan tidak merugikan pihak lain," ujarnya.

Sementara itu, mahasiswa Prodi Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah UIN Antasari, Siti Maisarah, menilai keberadaan pasar terapung penting dikenalkan kepada generasi muda. Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya mengenal pasar terapung sebagai destinasi wisata, tetapi juga perlu memahami nilai dan filosofi yang ada di balik aktivitas masyarakat sungai.

Mahasiswa lainnya Bachtiar Agusman melihat pasar terapung sebagai gambaran kemampuan masyarakat Banjar beradaptasi dengan lingkungan sungai. Interaksi yang berlangsung di atas jukung bukan hanya mempertemukan penjual dan pembeli, tetapi juga menjadi ruang bertukar informasi, pengalaman dan pengetahuan lokal.

“Yang diwariskan dari pasar terapung bukan hanya aktivitas jual belinya, tetapi juga nilai sosial dan budaya yang hidup di tengah masyarakat.” katanya.

Namun, keberadaan pasar terapung menghadapi sejumlah tantangan di tengah perkembangan zaman. Pergeseran aktivitas ekonomi dari sungai ke daratan, dan minimnya regenerasi pelaku.

"Masalah kondisi lingkungan sungai, hingga risiko komersialisasi wisata menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian," ucapnya.

Karena itu, pelestarian pasar terapung membutuhkan keterlibatan masyarakat lokal, generasi muda, akademisi dan pemerintah. Hal itu agar nilai budaya yang terkandung di dalamnya tetap terjaga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....