Budaya Banjar Dimanfaatkan untuk Pembelajaran Matematika
- 06 Sep 2026 15:33 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Budaya dan aktivitas sehari-hari masyarakat Banjar dapat dijadikan konteks pembelajaran matematika untuk meningkatkan pemahaman numerasi anak.
- Pendekatan pembelajaran kontekstual dengan memanfaatkan produk dan aktivitas budaya Banjar dapat membantu anak belajar sambil mengenal budaya lokal secara lebih dekat.
- Diskusi mengenai pendekatan pembelajaran matematika berbasis budaya lokal ini diselenggarakan dalam program Panderan Baisukan di RRI Pro4 Banjarmasin pada Senin, 31 Agustus 2026, melibatkan akademisi Universitas PGRI Kalimantan.
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Budaya dan aktivitas sehari-hari masyarakat Banjar dapat dimanfaatkan sebagai konteks pembelajaran matematika untuk membantu anak memahami konsep numerasi. Pendekatan tersebut juga dapat mengenalkan budaya lokal melalui proses belajar yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Gagasan tersebut dibahas dalam program Panderan Baisukan di RRI Pro4 Banjarmasin bersama akademisi Universitas PGRI Kalimantan, Senin, 31 Agustus 2026. Pembelajaran numerasi didorong lebih kontekstual dengan memanfaatkan berbagai aktivitas dan produk budaya Banjar sebagai sumber belajar.
Dr. Kamariah, M.Pd. menjelaskan konsep matematika dapat ditemukan dalam berbagai aktivitas masyarakat. Di antaranya transaksi jual beli di pasar, menghitung uang dan kembalian, menimbang barang, menggunakan takaran, serta mengenali bentuk dan pola pada rumah maupun produk budaya Banjar.
“Matematika sebenarnya ada di sekitar kita, mulai dari pasar, rumah, hingga aktivitas sehari-hari masyarakat Banjar,” ujarnya. “Karena itu, lingkungan dan budaya lokal dapat dimanfaatkan untuk membantu anak memahami konsep matematika dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.”
Pendekatan yang mengaitkan matematika dengan budaya tersebut dikenal sebagai etnomatematika. Melalui pendekatan ini, anak dapat mempelajari konsep matematika sekaligus melihat penerapannya dalam lingkungan yang mereka kenal.
Pembelajaran berbasis budaya lokal juga dapat dipadukan dengan teknologi Augmented Reality (AR). M. Saufi, M.Pd., mengatakan teknologi tersebut dapat membantu menampilkan objek pembelajaran secara lebih konkret dan interaktif.
“Teknologi dapat menjadi jembatan agar pembelajaran yang berasal dari budaya lokal tampil lebih menarik,” katanya. “Dengan begitu, materi pembelajaran dapat lebih mudah diterima oleh generasi sekarang.”
Dr. Haswinda Harpriyanti, M.Pd. menilai guru tetap memiliki peran penting dalam menentukan materi, konteks budaya, dan teknologi yang digunakan dalam pembelajaran. Pemanfaatan teknologi tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan digital anak, tetapi juga membangun pengalaman belajar yang dapat meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam mempelajari matematika.
Perpaduan budaya lokal dan teknologi diharapkan membuat pembelajaran matematika lebih dekat dengan kehidupan anak. Dengan demikian, anak dapat memahami matematika sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari, bukan sekadar angka dan rumus.
“Jangan sampai anak terlebih dahulu takut pada matematika,” ucap Haswinda. “Berikan kesempatan kepada mereka untuk mengenal matematika dengan cara yang menyenangkan.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....