Wadai Banjar Jadi Bagian Identitas Budaya Masyarakat

  • 14 Sep 2026 09:34 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Wadai Banjar merupakan makanan tradisional yang menjadi bagian integral dari identitas dan tradisi budaya masyarakat Banjar, bukan hanya sekadar kuliner.
  • Keberadaan wadai Banjar lekat dengan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan seperti hajatan, selamatan, pengajian, hari raya, dan kebersamaan keluarga.
  • Setiap jenis wadai Banjar memiliki nilai budaya yang berkaitan dengan kebiasaan dan warisan antargenerasi masyarakat Banjar, seperti yang dibahas dalam program Panderan Baisukan RRI Pro4 Banjarmasin.

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Wadai Banjar tidak hanya dikenal sebagai makanan tradisional, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi dan identitas masyarakat Banjar. Keberadaannya lekat dengan berbagai kegiatan masyarakat, seperti hajatan, selamatan, pengajian, hari raya, dan kebersamaan keluarga.

Hal tersebut dibahas dalam program Panderan Baisukan RRI Pro4 Banjarmasin, Sabtu, 12 September 2026, bersama Komunitas Palalah yang menghadirkan Erwin dan Saukani sebagai narasumber. Dalam dialog tersebut, wadai Banjar disebut memiliki nilai budaya karena setiap jenisnya berkaitan dengan kebiasaan dan warisan antargenerasi.

Erwin mengatakan keberagaman wadai Banjar menunjukkan kekayaan kuliner masyarakat Banua. Beberapa di antaranya bingka, amparan tatak, putu mayang, wadai cincin, dan apam Barabai yang memiliki karakter serta cara pengolahan berbeda.

“Wadai itu bukan hanya soal rasa, tetapi ada kebiasaan dan cerita yang menyertainya,” ujarnya. “Dari situ kita bisa melihat bagaimana budaya Banjar diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.”

Menurutnya, proses pewarisan banyak berlangsung di lingkungan keluarga. Anak belajar membuat wadai dengan mengamati orang tua atau nini di dapur dan memperoleh pengetahuan tentang takaran, tekstur, hingga tingkat kematangan melalui pengalaman langsung.

Sementara itu, Saukani menilai wadai Banjar memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari ekonomi kreatif. Wadai tradisional dapat dipasarkan dengan kemasan yang lebih menarik dan memanfaatkan media sosial tanpa menghilangkan karakter serta identitas aslinya.

“Kita boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi identitas wadai Banjar jangan sampai hilang,” katanya. “Inovasi justru bisa menjadi cara agar wadai semakin dikenal oleh masyarakat luas.”

Di tengah semakin beragamnya pilihan makanan modern, pelestarian wadai Banjar dinilai membutuhkan keterlibatan generasi muda. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pengenalan sejarah dan jenis wadai, dokumentasi resep, pembuatan konten digital, hingga pengembangan wadai sebagai produk usaha.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....