Peribahasa Banjar Gambarkan Optimisme Rezeki dan Keterbukaan Rumah

  • 13 Sep 2026 17:51 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Peribahasa Banjar 'Razakinya datang di tungkat di galagar' mengandung pesan optimisme dalam memandang rezeki dan menggambarkan keterbukaan rumah masyarakat Banjar.
  • Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan kondisi tidak selalu membatasi peluang seseorang memperoleh rezeki.
  • Budayawan Noorhalis Majid dan akademisi Arif Rahman Hakim membahas makna peribahasa tersebut serta kaitannya dengan kehidupan masyarakat dan perubahan bentuk rumah Banjar dalam program Ragam Budaya Bacangkurah RRI Pro4 Banjarmasin.

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Peribahasa Banjar “Razakinya datang di tungkat di galagar” mengandung pesan optimisme dalam memandang rezeki sekaligus menggambarkan keterbukaan rumah masyarakat Banjar. Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan kondisi tidak selalu membatasi peluang seseorang memperoleh rezeki.

Makna peribahasa tersebut dibahas dalam siaran Ragam Budaya Bacangkurah RRI Pro4 Banjarmasin, Jumat, 11 September 2026. Budayawan Noorhalis Majid dan akademisi Arif Rahman Hakim mengupas makna ungkapan tersebut serta kaitannya dengan kehidupan masyarakat dan perubahan bentuk rumah Banjar.

Noorhalis Majid menjelaskan, peribahasa tersebut memiliki dua konsep utama, yakni rezeki dan rumah. Dalam konteks rezeki, ungkapan itu mengajarkan bahwa rezeki tidak selalu diperoleh dengan bepergian atau bekerja di luar rumah.

“Rezeki ikam bukan hanya di tangan, di batis, di muntung. Di tungkat, di gelagar juga ada rezeki ikam,” ujar Noorhalis.

Menurutnya, ungkapan tersebut dapat memberikan semangat kepada orang yang memiliki keterbatasan usia, kondisi fisik, atau keadaan tertentu sehingga lebih banyak beraktivitas di rumah. Rezeki tetap dapat datang melalui berbagai jalan yang tidak selalu dapat diperkirakan manusia.

Noorhalis menegaskan, pesan dalam peribahasa tersebut bukan berarti mengajarkan seseorang untuk bermalas-malasan. Ungkapan itu justru mendorong masyarakat agar tetap optimistis dan tidak mudah menyerah terhadap keadaan.

“Ini agar supaya bukan berarti menyuruh orang malas. Juga agar supaya orang optimis bahwa rezeki itu ada,” kata Noorhalis.

Makna peribahasa tersebut juga dikaitkan dengan konsep rumah masyarakat Banjar pada masa lalu yang cenderung terbuka. Sejumlah ruang dalam rumah dirancang untuk mendukung interaksi antara penghuni dan masyarakat di sekitarnya.

Salah satunya ambin yang digunakan untuk menerima dan berinteraksi dengan orang yang datang. Selain itu terdapat tawing halat, palidangan, hingga dapur atau padu yang memiliki fungsi masing-masing dalam kehidupan keluarga.

Arif Rahman Hakim menjelaskan, tungkat dan galagar merupakan bagian struktur bawah rumah yang berfungsi menopang lantai dan bangunan. Letaknya yang berada di bawah dan tidak terlihat secara langsung menjadi gambaran bahwa sesuatu yang tidak tampak pun dapat menjadi jalan datangnya rezeki.

Menurut Arif, pesan tersebut juga relevan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan dalam beraktivitas di luar rumah. Kondisi itu tidak seharusnya membuat seseorang menganggap dirinya kehilangan peluang untuk memperoleh penghidupan.

Ia juga menyoroti perubahan konsep rumah Banjar seiring perkembangan permukiman modern. Arif menilai penggunaan pagar yang semakin tinggi dan konsep rumah yang lebih tertutup turut memengaruhi pola interaksi sosial masyarakat.

“Kalau kita kunci seharian rumah kita, siapa yang mengetok? Rumah yang tertutup juga membuat hubungan dengan lingkungan sekitar menjadi terbatas,” ujar Arif.

Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dengan kehidupan masyarakat di kampung yang sebagian masih mempertahankan lingkungan terbuka. Hubungan kekerabatan dan interaksi antartetangga dapat tetap terjaga melalui ruang serta akses yang menghubungkan satu rumah dengan rumah lainnya.

Dalam rumah Banjar, pintu belakang juga memiliki fungsi sosial selain sebagai akses keluar-masuk. Pada masa lalu, pintu tersebut dapat menjadi jalur interaksi dengan tetangga, sementara titian yang menghubungkan permukiman turut memperkuat hubungan antarwarga.

Perubahan pola permukiman di perkotaan membuat hubungan sosial antarwarga cenderung lebih terbatas. Pagar dan orientasi rumah yang semakin tertutup menjadi bagian dari perubahan gaya hidup masyarakat modern yang ikut mengubah pola interaksi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....