Kebiasaan Membakar Lahan, Tradisi Lama yang Perlu Dikaji Ulang

  • 11 Agt 2026 07:43 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin — Asap yang mengepul dari lahan bukan sekadar persoalan api. Di baliknya ada kebiasaan, tradisi, kebutuhan masyarakat, hingga persoalan lingkungan yang saling berkelindan.

"Kebiasaan membakar lahan masih ditemukan terutama saat masyarakat membuka atau mengolah lahan pertanian. Sisa tanaman dan semak setelah panen biasanya dibakar untuk mempersiapkan lahan sebelum kembali ditanami," kata Faisal Embron, mahasiswa UIN Antasari dalam Ragam Budaya Suluh Banua Pro 4 RRI Banjarmasin, Minggu, 9 Agustus 2026,

Suluh Banua mengangkat tema “Kebiasaan Membakar Lahan”. Hadir dua mahasiswa UIN Antasari Banjarmasin lainnya yakni Haikal Al-Farabi dan Al Vaya Fitria.

Menurut Faisal, kebiasaan tersebut perlu dilihat berdasarkan perubahan kondisi lingkungan. Tradisi yang dahulu dilakukan ketika hutan masih lebat dan jumlah penduduk relatif sedikit, dinilai memiliki dampak berbeda dengan kondisi saat ini.

“Dulu hutan masih lebat, manusianya sedikit. Sekarang hutannya sudah banyak yang gundul dan manusianya semakin banyak, otomatis dampaknya ke manusia,” ujarnya.

Menurutnya, tradisi tidak serta-merta harus dihilangkan, tetapi perlu dievaluasi ketika pelaksanaannya mulai menimbulkan kerugian bagi orang lain. Dikatakan, masyarakat adat, pemerintah dan berbagai pihak perlu duduk bersama mencari cara yang tetap menghormati budaya.

"Namun tidak mengabaikan keselamatan lingkungan dan masyarakat," katanya.

Sementara itu, Haikal Al-Farabi melihat kebakaran lahan memiliki dampak langsung terhadap masyarakat, terutama ketika menimbulkan kabut asap. Kondisi tersebut dapat mengganggu aktivitas dan kesehatan warga di sekitar lokasi kebakaran.

Haikal yang juga aktif sebagai Duta Kampus UIN Antasari Banjarmasin menekankan pentingnya edukasi kepada generasi muda. Upaya menjaga lingkungan kata Haikal tidak cukup hanya dengan mengurangi aktivitas pembakaran.

"Menjaga lingkungan juga dapat dilakukan melalui kegiatan positif seperti penanaman pohon dan kampanye kepedulian lingkungan.," ujarnya

Pandangan serupa disampaikan Al Vaya Fitria. Menurutnya, asap hasil pembakaran lahan menambah persoalan polusi yang sudah berasal dari berbagai sumber.

“Kadang cuma kita yang membakar, tapi orang yang di sekitarnya kena dampaknya juga,” katanya.

Dalam dialog tersebut, Faisal juga menyoroti pentingnya mencari solusi yang tidak hanya menyalahkan masyarakat. Menurutnya, persoalan kebakaran lahan juga berkaitan dengan perubahan lingkungan, berkurangnya kawasan hutan, serta kepentingan lain yang berada di sekitar lahan masyarakat.

Ia mencontohkan kasus kebakaran lahan di wilayah Kabupaten Banjar yang bermula dari pembakaran sisa lahan setelah panen. Api kemudian membesar dan merembet hingga membakar tempat penyimpanan hasil pertanian maupun kawasan permukiman.

"Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menimbulkan kerugian dan konflik antara masyarakat." ucapnya.

Faisal menambahkan, masyarakat juga perlu memahami bahwa pembakaran lahan yang menimbulkan kerugian dapat berujung pada persoalan hukum. Faisal menilai pemerintah perlu hadir melalui edukasi sekaligus ketegasan agar konflik antara warga, petugas pemadam kebakaran dan pihak lainnya tidak semakin meluas.

Sementara itu, dalam sesi interaktif Mihat dari Sungai Lauk turut membagikan pengalaman masyarakat setempat dalam memanfaatkan ampas atau sisa hasil kegiatan yang sebelumnya dibakar. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari diskusi mengenai bagaimana kebiasaan lama dapat diarahkan pada pemanfaatan yang lebih aman dan tidak menimbulkan dampak bagi lingkungan sekitar.

Faisal, Haikal dan Fitria mengingatkan, menjaga tradisi tidak berarti mempertahankan seluruh kebiasaan tanpa evaluasi. Budaya dapat terus hidup dengan menyesuaikan diri terhadap kondisi zaman

"Sementara masyarakat tetap memiliki tanggung jawab menjaga lingkungan agar kebiasaan membakar lahan tidak berubah menjadi ancaman bagi kesehatan, keselamatan dan kehidupan bersama," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....