Sasirangan Tetap Eksis, Generasi Muda Jadi Kunci Pelestarian Budaya Banjar
- 01 Agt 2026 21:13 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Kain sasirangan tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya Banjar, tetapi juga terus berkembang mengikuti tren fesyen modern tanpa kehilangan nilai filosofisnya. Hal tersebut menjadi pembahasan dalam siaran Pandiran Baisukan RRI Pro 4 Banjarmasin edisi Jumat, 31 Juli 2026 dengan topik "Sasirangan, Identitas Budaya Banjar yang Tetap Eksis di Era Modern".
Siaran yang dipandu presenter Helda menghadirkan narasumber Dra. Mulyani, M.Ag., dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari, didampingi Mutia Rahmah, mahasiswa Psikologi Islam. Keduanya mengulas sejarah, filosofi, hingga tantangan pelestarian sasirangan di tengah derasnya pengaruh budaya global.
Dra. Mulyani menjelaskan, sasirangan pada awalnya dikenal sebagai kain pamintan, yaitu kain yang dibuat berdasarkan permintaan khusus dan digunakan dalam ritual pengobatan tradisional masyarakat Banjar. Menurutnya, setiap proses pembuatannya mengandung makna spiritual yang berkaitan dengan doa dan harapan.
"Sasirangan dulunya bukan sekadar kain. Pembuatannya melalui proses tertentu dan digunakan untuk tujuan pengobatan. Kini fungsinya berkembang menjadi identitas budaya yang dapat dikenakan semua kalangan," ujarnya.
Mulyani menambahkan, perkembangan sasirangan saat ini sangat menggembirakan. Tidak hanya diminati masyarakat Kalimantan Selatan, tetapi juga telah dikenal hingga berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, menurut beliau, beberapa koleganya dari Aceh rutin memesan kain sasirangan sebagai busana untuk berbagai acara.
Selain memiliki nilai sejarah, sasirangan juga menyimpan filosofi yang tercermin dalam motif dan warnanya. Mulyani menyebut motif-motif seperti kulat karikit, gigi haruan, naga balimbur, daun jeruju, kembang kacang, hingga tampuk manggis terinspirasi dari alam Kalimantan dan menjadi representasi identitas masyarakat Banjar.
Pada sesi interaktif, Abah Sofyan dari Pelaihari kembali bergabung dan mengajukan pertanyaan mengenai pandangan narasumber terhadap penggunaan kain sasirangan sebagai taplak meja. Menanggapi hal tersebut, Mulyani mengaku kurang sependapat karena sasirangan memiliki nilai budaya dan sejarah yang patut dihormati.
"Kalau bisa, sasirangan tetap dimanfaatkan sebagai busana atau karya yang mencerminkan penghormatan terhadap budaya. Sayang jika hanya dijadikan alas meja, mengingat sejarah dan nilai filosofis yang dimilikinya," katanya.
Sementara itu, Mutia Rahmah menilai sasirangan kini semakin diminati generasi muda karena modelnya mampu mengikuti perkembangan zaman. Menurutnya, sasirangan dapat dikreasikan menjadi berbagai jenis busana, mulai dari gaun, jas, kemeja hingga pakaian kasual tanpa menghilangkan ciri khas motifnya.
"Anak muda sekarang justru bangga memakai sasirangan. Selain tampil modern, kita juga sedang memperkenalkan budaya Banjar kepada masyarakat yang lebih luas. Sasirangan bukan lagi dianggap kuno, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup," ujar Mutia.
Dari sudut pandang Psikologi Islam, Mutia menambahkan bahwa penggunaan busana berbasis budaya lokal juga mampu meningkatkan rasa percaya diri sekaligus memperkuat identitas seseorang. Menurutnya, ketika masyarakat menghargai warisan budaya sendiri, rasa memiliki terhadap daerah asal akan semakin kuat.
Di akhir siaran, Mulyani mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus melestarikan sasirangan melalui berbagai cara, mulai dari mengenakan, mempromosikan hingga mendukung para perajin lokal. Menurut beliau, sasirangan bukan sekadar kain bermotif, melainkan simbol identitas, kebersamaan, kesabaran, dan kekayaan budaya Banjar yang harus terus diwariskan kepada generasi mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....