Katulahan dan Transformasi Nilai Moral Masyarakat Banjar

  • 15 Nov 2025 16:08 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Siaran Pandiran Baisukan edisi bersama UIN Antasari Banjarmasin kembali menghadirkan obrolan yang kaya makna tentang nilai lokal Banjar. Dipandu Wan Kahfi atau Awan membuka siaran dengan hangat, memperkenalkan tema hari itu: Konsep Katulahan sebagai Mekanisme Kontrol Sosial dan Moral dalam Masyarakat Banjar.

Narasumber utama, Bashori, M.Ag. akrab disapa Pak Bas didampingi mahasiswa Psikologi Islam, Nahlatul Wardah. Dalam paparannya, Pak Bas menjelaskan bahwa katulahan adalah konsep religius-kultural yang sudah lama hidup dalam masyarakat Banjar.

“Katulahan itu fenomena budaya dan agama; ia hadir sebagai pengingat agar kita tidak melanggar norma dan sakralitas,” ujarnya.

Beliau menambahkan bahwa keyakinan akan hilangnya keberkahan hidup ketika seseorang melakukan penyimpangan menjadi inti dari konsep tersebut.

Nahlatul Wardah, yang memberikan sudut pandang psikologi Islam, melihat katulahan sebagai cara masyarakat memahami konsekuensi dari perbuatan.

“Psikologi memandangnya sebagai proses kesadaran bahwa apa yang kita lakukan punya akibat, dan itu mendorong kita memperbaiki diri,” ucapnya, Jumat (14/11/2025).

Menurutnya, pengalaman masa lalu yang dianggap sebagai “jejak dosa” sering menjadi pemicu refleksi personal maupun sosial.

Pembahasan semakin hidup ketika Pak Bas menyinggung dimensi kolektif dari katulahan. Ia mencontohkan bagaimana satu kesalahan dapat berdampak bagi kelompok.

“Dalam masyarakat Banjar, pelanggaran itu dipercaya tidak hanya menimpa pelakunya, tapi juga lingkungan sosialnya. Ini membentuk kontrol moral komunal, nilai kehati-hatian pun muncul sebagai bagian dari filosofi hidup Banjar," ucapnya.

Dalam konteks modern, Pak Bas menilai bahwa konsep katulahan mengalami transformasi. Jika dulu lebih beririsan dengan hal-hal mistik, kini beliau bergeser menjadi mekanisme etis yang menuntun masyarakat bersikap.

Pak Bas menyebutnya sebagai kosmologi moral, yaitu pandangan hidup yang menghubungkan relasi manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama agar tetap harmonis.

Siaran ditutup closing statement bahwa katulahan bukan sekadar cerita lama atau ancaman gaib, tetapi sebuah sistem nilai yang terus relevan. Baik Pak Bas maupun Nahla sepakat bahwa kearifan lokal seperti ini penting untuk diwariskan, karena menjadi fondasi karakter masyarakat Banjar yang religius, berhati-hati, dan saling peduli.

Pandiran Baisukan kembali membuktikan dirinya sebagai ruang dialog budaya yang memperkaya pemahaman akan identitas Banua.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....