Laung Banjar Simbol Kehormatan dan Identitas Budaya
- 16 Jun 2026 06:48 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Laung bagi masyarakat Banjar bukan sekadar penutup kepala, melainkan memiliki filosofi mendalam yang mencerminkan kehormatan, identitas, dan nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun. Hal tersebut mengemuka dalam Siaran Berjaringan Nusantara bersama RRI Pro4 Jakarta dan RRI Pro4 Banjarmasin yang menghadirkan seniman sekaligus budayawan Banjar, Guru Masdar, Senin, 15 Juni 2026.
Mengangkat tema “Laung: Simbol Kehormatan, Identitas, dan Kebanggaan Masyarakat Banjar”, Guru Masdar menjelaskan bahwa laung bukan hanya pelengkap busana adat, tetapi juga simbol penghormatan terhadap diri sendiri dan budaya Banjar. Menurutnya, sejak masa Kesultanan Banjar, ikat kepala telah memiliki kedudukan penting sebagai penanda kehormatan masyarakat.
“Kalau kita sebut laung, itu memang sudah dikenal masyarakat Banjar sejak dulu. Dahulu disebut ikatan kepala, namun pada masa Kesultanan menjadi sesuatu yang disakralkan sebagai ciri khas dan identitas,” ujar Guru Masdar.
Ia menjelaskan, salah satu jenis laung yang dikenal masyarakat Banjar adalah Laung Damang, yang dahulu digunakan oleh tokoh masyarakat atau pemimpin yang berperan membimbing warga. Selain itu, terdapat pula Laung Raja yang digunakan dalam acara perkawinan adat Banjar, khususnya bagi pengantin yang dianggap sebagai raja sehari.
Guru Masdar juga mengungkapkan terdapat berbagai jenis laung lain yang memiliki makna berbeda, di antaranya Laung Raja, Laung Damang, Laung Tajuk, Laung Ikat, Laung Lilit, hingga Laung Kopiah. Setiap bentuk dan lipatan memiliki filosofi tersendiri, termasuk simbol kesantunan, kepemimpinan, dan nilai spiritual masyarakat Banjar.
“Budaya ini tidak lahir secara instan, tetapi diwariskan oleh nenek moyang dengan nilai yang harus terus dikembangkan dan dilestarikan. Laung adalah mahkota bagi laki-laki Banjar, simbol kehormatan dan adab,” katanya.
Selain membahas bentuk dan sejarahnya, Guru Masdar juga mengulas filosofi motif pada perlengkapan adat Banjar seperti air guci, sari gading, hingga berbagai motif tumbuhan yang sarat makna kehidupan. Menurutnya, setiap motif tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga mengandung ajaran tentang kesederhanaan, kejujuran, dan sikap saling menghargai.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....