Menjaga Binar Mata Anak-Anak Jabar
- 23 Jul 2026 11:56 WIB
- Bandung
Poin Utama
- Gubernur Jawa Barat melakukan kunjungan ke berbagai sudut kota dan pelosok desa di Jawa Barat, dari pesisir utara hingga pegunungan selatan.
- Dalam setiap kunjungan, tatapan mata dan senyum anak-anak menunjukkan harapan besar yang membuncah untuk masa depan yang lebih baik.
- Gubernur merasa ragu dan khawatir apakah tanah Pasundan telah menjadi tempat yang benar-benar aman dan membahagiakan bagi generasi muda saat ini.
RRI.CO.ID, Bandung - Setiap kali turun menyapa warga di berbagai sudut kota maupun pelosok desa di Jawa Barat—mulai dari pesisir utara hingga pegunungan selatan—ada satu momen yang selalu berhasil menghentikan langkah saya: tatapan mata dan senyum tulus anak-anak kita.
Di mata mereka yang jernih, saya melihat harapan yang membuncah. Namun di saat yang sama, sebagai seorang ibu sekaligus wakil rakyat yang berikhtiar di ruang kebijakan, dada ini sering kali berdesir ragu: Sudahkah tanah Pasundan yang kita cintai ini benar-benar menjadi tempat yang aman dan membahagiakan bagi mereka?
Momentum Hari Anak Nasional tahun ini, dengan tema "Anak Terlindungi, Indonesia Maju", memanggil nurani kita semua. Bagi saya, memperjuangkan anak-anak bukan sekadar menjalankan tugas konstitusi, melainkan bentuk pertanggungjawaban iman. Kita ingin memastikan anak-anak Jawa Barat tumbuh bahagia lahir batin, bukan hanya cerdas di atas kertas, tapi juga tangguh jiwanya menuju Jawa Barat Istimewa.
Memulai dari Ibu: Penguat Utama Generasi.
Dalam setiap perjumpaan dengan para kader perempuan di majelis taklim, Posyandu, hingga komunitas warga, saya selalu menitipkan pesan ini: anak yang kuat lahir dari ibu dan orang tua yang tak berhenti menguatkan diri.
Tantangan anak-anak kita hari ini sungguh tidak mudah. Mereka lahir di era banjir informasi dan media sosial. Jika kita sebagai orang tua gagap dan enggan belajar, anak-anak akan mencari arahan di tempat lain yang mungkin merusak masa depannya.
Menjadi orang tua yang kuat bukan berarti kita tidak boleh lelah. Tetapi, ini tentang komitmen untuk:
Hadir Utuh untuk Anak: Bukan sekadar memberikan gadget agar mereka tenang, melainkan duduk mendampingi, mendengarkan cerita sederhana mereka, dan memeluk mereka di akhir hari.
Menjadi Teladan Kejujuran dan Kasih Sayang: Karena anak-anak adalah peniru yang sangat ulung. Apa yang kita semai di dalam rumah, itulah yang akan mereka panen di masyarakat.
Merawat Jiwa dan Raga: Menjaga Ketahanan Keluarga.
Di gedung DPRD, kami bisa merumuskan Perda atau mengalokasikan anggaran untuk pendidikan dan kesehatan. Namun, "kurikulum" kehidupan yang paling hakiki sejatinya diajarkan di meja makan dan ruang tamu rumah kita.
Penting bagi kita untuk merawat ketahanan keluarga secara menyeluruh demi children well-being (kesejahteraan anak) yang sejati:
Pondasi Spiritual : Menanamkan rasa cinta pada Allah SWT dan akhlak mulia sejak dini. Ini adalah kompas hidup terbaik agar mereka tidak mudah goyah di tengah badai zaman.
Kesehatan Emosional : Membangun iklim rumah yang ramah, tanpa kekerasan verbal maupun fisik. Anak harus merasa bahwa rumah adalah tempat paling aman untuk bersandar saat mereka gagal atau terluka.
Kecukupan Intelektual & Finansial: Mengawal gizi dan pendidikan anak dengan rezeki yang halal dan bernilai pencerahan, agar akal mereka tumbuh kritis dan berdaya saing.
Keluarga yang memiliki fondasi ini akan menjelma di keluarga berdaya—keluarga yang tak hanya mampu menyelamatkan anggotanya sendiri, tetapi juga menjadi cahaya penolong bagi lingkungan sekitarnya.
Ikhtiar Kita: Menghadirkan Ruang-Ruang Aman.
Sebagai aleg, saya berupaya untuk terus mengawal kebijakan dan anggaran yang memihak pada perlindungan anak dan penguatan perempuan di Jawa Barat. Namun, perjuangan ini membutuhkan tangan-tangan hangat Anda semua—para pegiat, kader perempuan, dan para tokoh masyarakat di tingkat RT, RW, hingga kecamatan.
Mari kita bergandengan tangan untuk memastikan tiga benteng perlindungan anak ini berdiri kokoh:
Aman di Rumah: Bebas dari kekerasan emosional, bentakan, dan pengabaian. Mari kita ganti kemarahan dengan dialog yang membimbing.
Aman di Sekolah dan Lingkungan: Bebas dari perundungan (bullying) dan diskriminasi. Tidak boleh ada lagi anak Jabar yang takut pergi sekolah karena diolok-olok temannya.
Aman di Dunia Digital: Mendampingi jemari mereka saat berselancar di dunia maya, melindungi mereka dari bahaya pornografi, judi online, dan kejahatan siber yang makin mengintai.
Mari Melangkah Bersama.
Sahabat-sahabatku para perempuan dan pejuang keluarga di seluruh Jawa Barat.
Pekerjaan menjaga anak-anak ini adalah investasi peradaban. Setiap usapan kepala anak yatim yang kita santuni, setiap edukasi parenting yang kita bagikan di kampung-kampung, dan setiap sapaan ramah kita pada anak-anak tetangga, adalah susunan batu bata bagi berdirinya masa depan bangsa.
Mari kita jadikan momentum ini untuk merapatkan barisan. Bersama-sama, kita hadirkan rumah yang penuh senyum, sekolah yang menenangkan, dan Jawa Barat yang ramah bagi anak-anak kita.
Anak Terlindungi, Indonesia Maju. Selamat Hari Anak Nasional!
Penulis: Hj. Siti Muntamah Oded, M.AP.
(Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....