Efisiensi Anggaran Porprov 2026, Jangan Korbankan Kualitas Pertandingan

  • 10 Sep 2026 19:41 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Gelaran Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Barat 2026 akhirnya memiliki kepastian. Jadwal pelaksanaan telah ditetapkan sesuai dengan rencana awal, begitu pula dengan lokasi pertandingan yang telah dipersiapkan untuk mendukung pelaksanaan pesta olahraga tingkat provinsi tersebut.

Dari sisi ketepatan waktu, Porprov Jabar 2026 patut mendapatkan apresiasi. Tidak terjadi perubahan jadwal yang menyebabkan pelaksanaan harus dipercepat ataupun ditunda. Kepastian tersebut sekaligus menjawab kekhawatiran sebelumnya mengenai kemungkinan penundaan dengan alasan efisiensi serta kesiapan anggaran.

Dengan demikian, Porprov 2026 setidaknya telah memenuhi salah satu unsur penting dalam penyelenggaraan sebuah event olahraga, yakni kualitas waktu. Namun, keberhasilan menjaga jadwal bukanlah satu-satunya ukuran yang harus diperhatikan dalam menilai keberhasilan Porprov.

Pertanyaan berikutnya justru jauh lebih substansial, yakni bagaimana kualitas pertandingan yang akan disajikan. Sebab, Porprov bukan sekadar persoalan kapan pertandingan digelar, di mana venue digunakan, ataupun seberapa meriah seremoni pembukaannya.

Porprov merupakan bagian penting dari proses pembinaan olahraga prestasi. Ajang ini menjadi ruang bagi atlet untuk ditempa, diuji, sekaligus diseleksi sebagai bagian dari kekuatan Jawa Barat dalam menghadapi agenda yang lebih besar, termasuk Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.

Karena itu, kualitas pertandingan semestinya menjadi perhatian utama. Salah satu faktor yang sangat menentukan kualitas pertandingan adalah perangkat pertandingan, mulai dari wasit, juri, pengawas pertandingan, technical delegate, hingga seluruh unsur yang bertugas memastikan pertandingan berlangsung profesional, objektif, dan sesuai standar cabang olahraga masing-masing.

Persoalan tersebut dapat dilihat dari salah satu contoh pada cabang olahraga bola basket. Pada Porprov Jawa Barat di Kota Bogor 2018, honorarium perangkat pertandingan disebut berada di kisaran Rp800 ribu per hari, kemudian pada Porprov 2022 di Garut turun menjadi sekitar Rp500 ribu per hari.

Sementara pada Porprov 2026, angka tersebut kembali mengalami penurunan menjadi sekitar Rp300 ribu per hari. Memang, besaran honorarium tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran untuk menentukan kualitas seorang perangkat pertandingan, tetapi angka tersebut tetap menjadi bagian dari realitas yang patut dicermati dalam perspektif pembinaan olahraga prestasi.

Perangkat pertandingan yang memiliki kompetensi, pengalaman, serta rekam jejak yang baik tentu memiliki kesempatan untuk bertugas pada berbagai level pertandingan dengan kompensasi yang lebih baik. Karena itu, muncul pertanyaan sederhana: dengan honor sekitar Rp300 ribu per hari, perangkat pertandingan seperti apa yang akhirnya bersedia mengambil tugas di Porprov?

Pertanyaan tersebut tentu bukan untuk merendahkan mereka yang bersedia menjalankan tugas sebagai perangkat pertandingan. Sebaliknya, hal ini merupakan bentuk perhatian terhadap bagaimana kualitas ditempatkan sebagai bagian dari investasi olahraga, karena perangkat pertandingan memiliki peran penting dalam memastikan hasil sebuah pertandingan dapat dipertanggungjawabkan secara objektif.

Jangan sampai efisiensi anggaran justru dilakukan pada bagian yang menentukan kualitas inti pertandingan. Sebab, apabila kualitas perangkat pertandingan menurun, kualitas pertandingan berpotensi ikut terdampak; ketika kualitas pertandingan menurun, proses mengukur kemampuan atlet juga tidak akan berlangsung secara maksimal.

Pada akhirnya, kondisi tersebut akan berpengaruh terhadap proses pemetaan kekuatan atlet dan daerah. Jika pertandingan tidak mampu memberikan gambaran objektif mengenai kemampuan atlet, bagaimana Jawa Barat dapat memperoleh data yang akurat untuk menentukan potensi kekuatan menuju PON 2028?

Di sinilah Porprov seharusnya ditempatkan sebagai sebuah laboratorium prestasi olahraga Jawa Barat. Porprov bukan sekadar agenda empat tahunan yang selesai setelah seremoni penutupan, melainkan bagian dari proses panjang untuk menemukan, menguji, dan mematangkan atlet-atlet potensial.

Karena itu, ukuran keberhasilan Porprov tidak cukup hanya dilihat dari ketepatan jadwal, ketersediaan venue, kemeriahan pembukaan, ataupun suksesnya berbagai kegiatan seremonial. Ukuran yang jauh lebih penting adalah apakah pertandingan berlangsung dengan standar yang layak sehingga mampu menghasilkan gambaran objektif mengenai kualitas atlet.

Memang, tuntutan efisiensi anggaran saat ini tidak dapat dihindari. Dunia olahraga juga harus mampu menyesuaikan diri dengan kondisi fiskal dan berbagai keterbatasan anggaran. Namun, efisiensi semestinya tidak diterjemahkan sebagai pemangkasan pada sektor-sektor yang justru berhubungan langsung dengan kualitas prestasi.

Jika memang harus berhemat, pertanyaannya bukan hanya “berapa yang bisa dipotong?”, melainkan juga “apa yang tidak boleh dipotong?” Dalam olahraga prestasi, kualitas pertandingan, perangkat pertandingan, pembinaan atlet, sport science, serta aspek lain yang secara langsung mendukung performa atlet semestinya menjadi bagian yang tidak boleh dikorbankan secara sembarangan.

Sebab, Porprov bukan sedang membangun sebuah pertunjukan semata. Porprov sedang membangun prestasi olahraga Jawa Barat. Karena itu, standar penyelenggaraannya pun harus lebih tinggi, bukan sekadar asal terlaksana, melainkan terlaksana tepat waktu, berlangsung profesional, dan mampu menghasilkan pertandingan berkualitas.

Jawa Barat selama ini dikenal sebagai salah satu barometer olahraga nasional. Banyak daerah menjadikan Jawa Barat sebagai rujukan dalam pembinaan dan pengelolaan olahraga prestasi. Maka, standar yang digunakan dalam Porprov 2026 semestinya juga mencerminkan posisi tersebut.

Porprov 2026 telah menjawab satu pertanyaan penting, yakni apakah penyelenggaraan mampu memenuhi kualitas waktu. Jawabannya sejauh ini adalah ya. Kini, pertanyaan yang jauh lebih penting harus dijawab melalui pelaksanaan di lapangan: apakah Porprov 2026 juga mampu memenuhi kualitas pertandingan?

Jawaban atas pertanyaan tersebut tidak akan ditentukan oleh megahnya seremoni, banyaknya spanduk, panggung, ataupun kemeriahan acara pembukaan. Jawabannya akan terlihat dari bagaimana pertandingan berlangsung, bagaimana atlet bertanding, bagaimana perangkat pertandingan menjalankan tugasnya, serta apakah hasil pertandingan benar-benar mampu menggambarkan kualitas atlet Jawa Barat secara objektif.

Sebab, pada akhirnya Porprov bukanlah tujuan akhir. Porprov merupakan salah satu tahapan menuju PON 2028 dan bagian dari proses panjang untuk menjaga kesinambungan prestasi olahraga Jawa Barat.

Karena itu, keberhasilan Porprov 2026 semestinya tidak hanya diukur dari kebanggaan bahwa pertandingan dapat berlangsung sesuai jadwal. Lebih dari itu, Jawa Barat harus mampu menunjukkan bahwa efisiensi anggaran tidak mengorbankan kualitas pertandingan dan proses pembinaan atlet.

Mempertahankan posisi sebagai salah satu tolok ukur olahraga nasional bukan hanya tentang kemampuan menjadi tuan rumah dan menyelenggarakan event. Yang lebih penting adalah keberanian menjaga kualitas, bahkan ketika efisiensi anggaran menjadi alasan yang paling mudah untuk melakukan pemangkasan.

Penulis:

Epriyanto Kasmuri

Ketua DPD PERBASI Jawa Barat (2026–2030)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....