Jika di Level Bawah Tak Selesai, Mengapa Tidak Naik ke Level Atas?

  • 25 Jun 2026 13:15 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Ada satu kebiasaan yang sering terjadi dalam birokrasi dan organisasi: ketika sebuah persoalan tak kunjung selesai di meja bawah, semua orang justru sibuk mengelilingi meja yang sama. Padahal, dalam sebuah sistem kepemimpinan, setiap persoalan memiliki tangga penyelesaian. Jika satu anak tangga buntu, mengapa tidak melangkah ke anak tangga berikutnya?

Itulah yang hari ini menjadi potret dunia olahraga Jawa Barat.

Perbincangan masih berkutat pada belum cairnya dana hibah yang sangat dibutuhkan oleh KONI dan cabang olahraga. Dana itu bukan sekadar angka dalam dokumen APBD. Di baliknya ada pembinaan atlet, keberlangsungan organisasi, pelatih yang menunggu kepastian, hingga masa depan prestasi Jawa Barat.

Namun sesungguhnya, persoalan ini bukan lagi semata soal uang.

Yang lebih menarik untuk dicermati adalah bagaimana pola komunikasi antarpemangku kepentingan.

Rapat demi rapat sudah dilakukan. Audiensi dengan DPRD Komisi V juga telah berlangsung. Bahkan Dispora menyampaikan bahwa anggaran sekitar Rp34 miliar telah tersedia dan masih berada dalam proses administrasi. Persoalannya, proses itu seperti berjalan di atas treadmill: banyak bergerak, tetapi tidak berpindah tempat. Semua sibuk menjelaskan proses, tetapi tidak ada yang mampu menjelaskan kapan garis akhirnya.

Di sinilah pertanyaan sederhana layak diajukan.

Jika persoalan tidak selesai di level dinas, mengapa tidak naik ke level gubernur sebagai pemegang kewenangan tertinggi?

Dalam sistem pemerintahan, setiap keputusan strategis pada akhirnya bermuara pada kepala daerah. Terlebih untuk persoalan yang menyangkut nama besar Jawa Barat di panggung olahraga nasional. Maka menjadi aneh ketika semua energi habis berputar di ruang teknis, sementara pintu strategis seolah tak pernah diketuk.

Bukankah dalam kehidupan sehari-hari pun kita memahami bahwa ketika sebuah pintu tidak terbuka, orang bijak akan mencari pintu lain, bukan terus-menerus memukul pintu yang sama?

Ada filosofi lama yang menarik.

“Seorang raja tidak mungkin mengetahui seluruh keadaan di negerinya tanpa para menteri yang datang menyampaikan kenyataan.”

Jika gubernur dianalogikan sebagai raja dalam sistem pemerintahan daerah, maka para pimpinan organisasi olahraga adalah para menteri yang memahami denyut nadi olahraga di lapangan. Tugas mereka bukan hanya menjalankan organisasi, tetapi juga memastikan suara atlet dan kebutuhan olahraga sampai ke telinga pemimpin daerah.

Jangan berharap raja memahami kegelisahan rakyat apabila para menterinya memilih diam.

Jangan berharap keputusan lahir apabila persoalannya tidak pernah benar-benar disampaikan.

Kalaupun raja sulit ditemui, sejarah selalu mengajarkan bahwa diplomasi tidak pernah hanya memiliki satu jalan. Kedekatan personal, komunikasi kelembagaan, jaringan politik, maupun jalur formal selalu tersedia bagi mereka yang sungguh-sungguh ingin menyelesaikan masalah, bukan sekadar menceritakannya.

Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan diukur dari seberapa sering seseorang mengeluh di ruang publik, melainkan seberapa mampu ia membuka pintu yang sebelumnya tertutup.

Olahraga tidak membutuhkan narasi bahwa keadaan sedang sulit. Semua orang sudah tahu.

Yang dibutuhkan adalah siapa yang berani mengetuk pintu terakhir.

Sebab masyarakat tidak menilai siapa yang paling keras berbicara. Mereka menilai siapa yang mampu membawa pulang solusi.

Jangan sampai olahraga Jawa Barat menjadi korban dari hubungan yang membeku di antara para pemangku kepentingan. Prestasi yang dibangun puluhan tahun tidak boleh dikorbankan hanya karena komunikasi yang tersendat. Atlet tidak pernah bertanding membawa nama ego, mereka bertanding membawa nama Jawa Barat.

Sudah saatnya semua pihak berlapang dada, menanggalkan gengsi, dan membaca situasi dengan kepala dingin. Tidak perlu mencari siapa yang salah, karena yang dibutuhkan hari ini adalah siapa yang bersedia menyelesaikan persoalan.

Ada pepatah yang mengatakan, “Air yang membeku bukan karena kehilangan sumbernya, tetapi karena berhenti mengalir.”

Begitu pula hubungan antarlembaga. Ketika komunikasi berhenti mengalir, kebijakan ikut membeku.

Dan ketika kebijakan membeku, yang paling pertama merasakan dinginnya bukan pejabat, melainkan atlet-atlet yang setiap hari tetap berlatih dengan harapan yang belum tentu dibayar oleh kepastian.

Maka pertanyaannya kembali sederhana.

Jika di level bawah tidak selesai, mengapa tidak naik ke level atas?

Karena terkadang, solusi bukan berada di jalan yang lebih panjang, melainkan pada keberanian untuk mengetuk pintu yang tepat.

Ditulis oleh:

Epriyanto Kasmuri

Ketua DPD PERBASI Jawa Barat (2026–2030)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....