KBRN,Bandung: Bismillah untuk segala kebaikan. Teriring doa dan ketulusan rasa sayang untuk seluruh Ananda di bumi Indonesia di mana saja berada. Kebahagiaan yang nyata di hari Istimewa di mana semesta merayakan sebuah hari jadi untukmu anakkua sayang. Peluk dari jauh beserta harapan-harapan yang panjang untuk kebaikan kalian.
Cukup Sudahi Beban Mereka
Mungkin istilahnya bisa disebut ironisme. Apa itu maksudnya? Maksudnya adalah, kondisi yang berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan. Contohnya? Contohnya adalah ketika anak dipandang sebagai anugerah, ketika anak dipandang sebagai hadiah terindah, ketika anak dipandang sosok yang harus dijaga dan dijamin kebahagiannya, ketika anak dipandang sebagai insan yang harus terpasok kasih sayangnya, di saat yang sama justru mengemuka hal-hal yang megenaskan pada diri malaikat kecil itu.
Ada anak-anak yang diperjualbelikan, ada anak yang terpaksa harus menanggung beban kehidupan keluarga, ada anak yang seharusnya menikmati masa-masa sekolah justru malah hidup bebas di pasar atau mungkin di terminal, hingga anak-anak yang terpaksa menjadi korban rudapaksa orang yang tak sanggup mengelola nafsu. Kondisi yang seharusnya tak terjadi.
Baca juga : Iwan Suryawan: Anak Amanah, Bukan Sekedar Keluarga
Hadiahkan Keyakinan Padanya
Teringat salah satu quotes dari Bruce Barton. “Jika kita hanya punya satu hadiah saja untuk anak-anak kita, berilah ia semangat.” Artinya, dalam kondisi terbatas dan dan tak memiliki apa-apa untuk menghadiahkan anak-anak kita, sebetulnya masih ada hal melimpah pada diri kita untuk kita hadiahkan pada mereka. Apa itu? Kita bisa menghadiahinya dengan keyakinan, dengan semangat, dengan motivasi.
Jangan pernah mematahkan kesanggupannya, karena mereka memang sanggup. Jangan pernah meragukan harapan-harapannya, karena memang mereka berada pada masa-masa bertumbuh. Jangan pernah meredupkan cita-citanya, karena mereka sendiri punya keyakinan untuk maju. Jangan berhenti memandang mereka dengan pandangan yang baik, agar prasangka kita juga tetap terjaga.
Yuk, para Ayah, para Bunda. Kata-kata itu tak membutuhkan biaya besar. Kita bisa berwakaf motivasi untuk anak-anak kita. Kita bisa memberi keyakinan yang luas pada mereka untuk menjamin tumbuhnya rasa mampu, untuk menagaskan bahwa mereka merasa bisa. Mari berikan pujian yang relevan, mari berikan apresiasi dari hati, mari berikan pengakuan yang membuatnya merasa betul-betul ada dan diterima. Jangan pernah kita meremehkan arti afirmasi atau kata-kata positif. Di balik kata-kata positif yang kita ucapkan, ada malaikatb dan rangkaian partikel bahkan dedaun dan rerumputan saja turut mengaminkan.
Bukakan Ruang Ikatan
Benar adanya, bahwa anak adalah anugerah sekaligus sebagai ujian. Bahkan Al Quran membahas tema ini. Jadi, bila hari ini mereka menguji atau membuat kita harus banyak mengurut dada karena sikapnya, maka titipkan dengan tertib pada yang Maha Memilikinya. Allah Swt Mahamenjaga dan Mahamenyelamatkan. Bahkan di tengah tangkaian kesibukan mengahdapi pekerjaan, di tengah hectic-nya kita mengurusi organisasi, di tengah repotnya kita menyelesaikan masalah demi masalah, bukan tanpa alasan kita meninggalkan anak-anak kita untuk aktivitas.
Kenyataan mengharuskan kita banyak bergerak dan banyak beraktivitas. Namun di saat yang sama, anak-anak kita juga butuh kebersamaan dengan kita sebagai orang tuanya. Pada akhirnya kita harus terpisah oleh ruang dan waktu secara berulang. Pun tetap kita mintakan dan titipkan pada-Nya. Mengapa? Karena saat kita bergerak mendidik dan membina Masyarakat, tanpa kita sadari sesungguhnya ada Allah yang mendidik.
Semua anak di mana pun itu, hidupnya butuh core value. Butuh batasan. Di dalam Islam, bagaimana agama mampu menyelematkan, termasuk menyelematkan anak-anak dari tergelincirnya fitrah dan keimanan. Maka wajar ketika kita sebagai muslim dituntut dan dikenai kewajiban untuk mengenalkan salat kepada mereka. Dan yang demikian menjadi salah satu simbol dari sebuah landasan fundamental. Hal ini sebagaimana familier dalam Qur’an Surat Luqman ayat 13. “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”._
Selamat Hari Anak Nasional. Bertumbuh untuk maju, menggeliat persembahkan karya terbaik untuk semesta. Peluk hangat untuk anak-anakku di mana pun berada. Semoga senantiasa bahagia dan berdaya.
Salam Cinta
-Ummi Siti Oded-
Oleh: Hj. Siti Muntamah Oded, S.AP, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, yang juga Ketua BPKK DPW PKS Jawa Barat
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....